PALANGKA RAYA – Menyikapi fenomena yang terjadi di akhir kepemimpinan rektor UPR yang akan berakhir tanggal 7 september mendatang, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar Talkshow dengan mengangkat tema Kondusivitas Kampus dan Kontestasi demokrasi Pemilihan Rektor UPR yang digelar di lantai 6 gedung Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Inovasi Gambut (PPIG) komplek UPR Jumat,(1/04/2022)
Wakil Dekan Bidang Akademik Dr Jhon Retei Alfrisandi S Sos berharap kegiatan talkshow dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk meningkatkan wawasan dan menjadikan proses pembelajaran dalam hal menyikapi fenomena yang terjadi di masyarakat maupun di lingkungan kampus untuk di tanggapi secara rasional tegas dan ilmiah sebagai landasan bertindak dan bersikap
“Silakan kepada para narasumber dan mahasiswa untuk menyampaikan pemikiran pandangannyan terhadap tema yang akan kita bicarakan di forum terhormat ini “ kata Jhon Retei saat membuka acara.
Ada sejumlah narasumber yang diundang oleh BEM FISIP. Antara lain ketua DPRD Prov Kalteng Wiyatno SP, Dosen Fisip dan wakil direktur PPIG Dr Dhanu Pitoyo, dosen Fisip Dr Kiky Kristanto SH MH, Renaldi Muher demisioner Gubernur BEM FISIP UPR mewakili mahasiswa smDr Andrie Ellia sebagai rektor UPR saat ini.
Narasumber pertama Dr Dhanu Pitoyo dalam paparannya menyampaikan kontestasi merupakan hal yang pasti terjadi didalam sebuah proses pemilihan, sebab kontestasi adalah suatu jalan untuk mencari keberpihakan
“Namun yang paling penting dalam sebuah kontestasi demokrasi adalah kondusivitas dalam lingkugan itu sendiri,” kata Dhanu
Sementara narasumber kedua Dr Kiky Kristanto SH MH menekankan prosedur dan aturan dalam sebuah pemilihan rektor universitas, Menurutnya pelaksanaan pemilihan rektor dengan mengikuti aturan yang berlaku akan menjamin dan menjaga kewibawaan proses itu sendiri.
Rektor UPR Andrie Elia yang juga menjadi narasumber menyampaikan dalam proses pemilihan rektor UPR 2022-2026 mendatang agar selalu menciptakan kondusivitas, keterbukaan, prosedural, sesuai aturan, dan akuntabel.
Pada kesempatan itu Rektor minta ormawa dan mahasiswa mengawal pemilihan rektor. Pemilihan harus berjalan prosuder, akuntabel dan terbuka.
“Saya akan usulkan nanti saat Rapat Senat, agar BEM diundang untuk ikut menyaksikan dan mendengar langsung pembentuk panitia pemilihan rektor,” ujar Andrie.
Masa jabatan Rektor baru akan berakhir 20 September 2022. Sesuai tahapan, pada bulan April ini akan dibentuk panitia pemilihan rektor. Rencananya tanggal 7 April akan dilaksanakan Rapat Senat Universitas untuk membentuk panitia pemilihan.
Pemilihan rektor bukan seperti pilkada yang dipilih langsung. Rektor ini dipilih oleh anggota senat universitas yang berjumlah 40 orang. Kemudian ada suara menteri sebesar 35 persen.
“Memaknai kontestasi untuk merujuk pada kompetisi atau perlombaan dalam pemilihan rektor UPR merupakan hal yang keliru sebab menurutnya kontestasi pemilihan rektor dapat dimaknai dengan sebuah perdebatan untuk memberikan nilai-nilai dan kajian akademik berdasarkan kebutuhan dan tantangan bagi UPR itu sendiri,” tegas Andrie.
“Setelah mendapat peran pertama menjadi rektor UPR, saya telah berjanji untuk membawa UPR lebih maju, saya yakin bersama SDM UPR semua dapat terwujud, koordinasi, sinkronisasi dan kolaborasi adalah kunci mewujudkan cita cita UPR Jaya Raya,” tukas Andrie
Sementara itu Wiyatno mengapresiasi keberhasilan UPR saat dibawah kepemimpinan Dr Andrie Elia sebagai Rektor. Kedepan pemimpin UPR harus bisa melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai ini.
“Pemimpin UPR ke depan harus bisa melanjutkan kepemimpinan yang ada ini. Mampu menjalin kerjasam dengan. Mampu membawa UPR bersaing di tingkat nasional dan internasional,” tegas Wiyatno yang merupakan Alumni UPR angkatan 1992.
Sementara Ronaldi sebagai aktivis berharap pemilihan rektor ini berjalan sesuai aturan yakni aturan menteri dan statuta UPR. Pemilihan ini bisa menjadi role model bagi Kalteng dan Pemilihan. Dia mengajak mahasiswa untuk mengawal.pemilihan rektor.
Sementara di akhir acara, John Retei berharap proses pemilihan rektor ini bisa berjalan baik agar terpilih pemimpin yang baik yang mampu melanjutkan kepemimpinan yang ada. “Kalau gaduh akan merugikan kita sendiri,”ujar John Retei. (yah/ce/ala)







