Soal Tes di Luar Ekspektasi

oleh
oleh
SELEKSI KOMISIONER: Peserta mengikuti tes CAT di UPT BKN Kota Palangka Raya, Senin (18/7).

PALANGKA RAYA-Tahapan kedua seleksi penerimaan komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalteng yakni tes computer assisted test (CAT) telah dimulai. Sebanyak 83 peserta yang sebelumnya dinyatakan lolos verifikasi berkas, mengikuti tes CAT yang digelar di UPT Badan Kepegawaian Negara (BKN) Kota Palangka Raya, Senin (18/7).

Ketua Tim Seleksi (Timsel) Bawaslu Kalteng Prof Hamdanah mengatakan, seluruh peserta tes CAT sudah mengikuti aturan dan persyaratan yang ditentukan, serta menyerahkan makalah.

“Pelaksanaan tes CAT hari ini berjalan lancar, seluruh peserta datang dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan, termasuk makalah,” katanya saat diwawancarai di sela-sela pelaksanaan CAT di Kantor UPT BKN Palangka Raya, kemarin.

Disebutkannya, perihal berat atau ringannya soal tes, pihaknya tidak tahu, lantaran merupakan kewenangan pusat untuk menyiapkan soal tes. Pihaknya hanya akan menerima nilai setelah dilaksanakan tes CAT dan tes psikologi nanti.

“Pada tanggal 20 Juli nanti akan dilaksanakan tes psikologi terhadap 83 peserta yang saat ini mengikuti tes CAT. Setelah itu dilaksanakan tes kesehatan, lalu dilanjutkan tes wawancara. Pada tahap kedua ini, makalah yang diserahkan akan berguna bagi peserta,” ungkapnya.

Tes psikologi akan dilaksanakan oleh pihak Polri, dalam hal ini dilaksanakan Polda Kalteng. Persentase penilaiannya, hasil tes CAT 60 persen dan tes psikologi 40 persen. Pada tahapan ini, timsel akan menerima hasil dari pusat.

“Dari tes CAT dan psikologi ini nanti akan diambil empat kali tiga kebutuhan, itu sesuai dengan pedoman yang ada,” ucap dosen IAIN Palangka Raya ini.

Dengan demikian, berdasarkan hasil pelaksanaan CAT dan tes psikologi, akan diambil 12 orang dari 83 peserta. Selanjutnya 12 orang terpilih itu berhak mengikuti tes kesehatan dan wawancara.

Di tempat yang sama, Kepala UPT BKN Kota Palangka Raya Sigit Ari Wibowo mengatakan, pelaksanaan tes CAT untuk seleksi komisioner Bawaslu Kalteng ini dilaksanakan selama satu hari dan dibagi dalam tiga sesi. Tiap sesi diberi waktu 135 menit. Peserta harus menyelesaikan ujian tertulis untuk 100 soal pilihan ganda dengan waktu 90 menit dan menjawab soal esai sebanyak lima soal dengan waktu 45 menit.

“Tiap sesi terdiri dari 30 peserta, setelah waktu ujian berakhir, peserta dapat melihat hasil ujiannya di komputer masing-masing,” tegasnya.

Baca Juga:  Balap Liar Subuh Disasar Polisi, Enam Motor Ditertibkan

Tidak disediakan live score di BKN Kota Palangka Raya, karena hanya bisa dilihat di BKN pusat.

“Sedangkan untuk jawaban soal esai, kami kirimkan PDF ke timsel provinsi dan pusat, kemudian mereka yang akan menilai,” pungkasnya.

Salah satu peserta seleksi, Siti Wahidah yang juga merupakan anggota Bawaslu Kalteng saat ini mengatakan sudah mempersiapkan diri secara matang untuk mengikuti tes tertulis ini. Namun ia mengaku sedikit kesulitan menyelesaikan soal-soal tes.

“Tidak sesuai ekspektasi soal-soalnya, ada banyak hal baru dari apa yang saya pelajari,” ungkap wanita berusia 50 tahun itu.

Peserta lainnya, Inar L Teki yang merupakan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) berusia 62 tahun menyatakan keseriusasnnya untuk menjadi komisioner Bawaslu Kalteng.

“Karena saya ingin mengabdi kepada bangsa dan negara. Mengikuti ini juga menjadi salah satu bagian yang harus dijalankan sebagai warga Indonesia,” ucapnya.

Masih di lokasi BKN, Aliasman Purba yang juga merupakan peserta seleksi mengatakan, soal tes pada tahap ini lebih banyak terkait Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Juga terkait ketatanegaraan, UUD 1945, dan kewarganegaraan. Menurutnya sistem tes yang diterapkan sudah bagus. Tiap peserta diberi soal yang berbeda.

“Saya akui sistem yang diterapkan luar biasa bagus dan transparan, setiap peserta mendapat soal berbeda,” kata pria yang juga salah satu dosen luar biasa di Fakultas Hukum (FH) Universitas Palangka Raya (UPR) ini.

Aliasman mengaku mengikuti seleksi komisioner Bawaslu Kalteng karena sesuai dengan bidang yang sudah pernah ia geluti. Mantan hakim adhoc Pengadilan Negeri (PN) Palangka Raya ini optimistis bahwa dengan berbekal pengalaman yang dimiliki, ia meyakini bisa bergabung sebagai komisioner di lembaga pengawas pemilu itu.

Nurhalina, peserta seleksi yang juga merupakan dosen pada Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya mengatakan, ia tidak keberatan dan minder dengan banyaknya partisipan laki-laki dibanding perempuan. “Sudah ada aturannya bahwa anggota bawaslu harus diisi oleh laki-laki sebanyak 60 persen, sisanya perempuan. Kalau tidak salah, bawaslu yang punya anggota perempuan paling banyak adalah Bawaslu Kalteng,”ungkapnya. (abw/mif/qin/ce/ala/ko)