Kepala Dinas PUPR Kobar Hasyim Muallim menyebut, intensitas hujan yang tinggi akhir-akhir ini membuat wilayah Kobar dikepung banjir. Pihaknya sudah mulai mengambil langkah untuk antisipasi banjir tahunan yang terjadi. Mengingat beberapa ruas jalan dalam kota mulai tergenang banjir, diduga akibat mampetnya drainase. Tentunya ada program penanganan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk upaya jangka pendek, pihaknya melakukan pembersihan saluran atau drainase yang tersumbat akibat kotoran atau sampah. Satgas diturunkan ke lapangan untuk pembersihan parit atau drainase.
“Kami juga akan melakukan normalisasi sungai atau parit yang menuju Tembaga Bu’un dan Bamban. Lalu untuk penanganan jangka panjang, PUPR akan membuat kolam retensi sebagai penampung air saat debit air meningkat,” bebernya.
Sementara itu, banjir yang terjadi di Kabupaten Lamandau kian parah. Puncaknya pada Minggu (16/10). Terpantau banjir merendam hampir seluruh kecamatan yang ada di kabupaten burjuluk Bumi Bahaun Bakuba ini. Lebih dari 207 jiwa terpaksa mengungsi akibat banjir yang melanda 7 kecamatan. Banjir kali ini dipicu oleh hujan dengan turun dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir, hingga mengakibatkan Sungai Lamandau meluap.
Ketinggian air yang merendam 7 kecamatan berbeda-beda. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau, hingga Minggu (16/10) pukul 16.30 WIB, tercatat banjir masih menggenangi beberapa wilayah hulu hingga dalam Kota Nanga Bulik, dengan tinggi muka air antara 10 cm hingga 150 cm.
BPBD Lamandau mencatat ada 7 kecamatan terdampak banjir. Yakni Kecamatan Delang, Kecamatan Lamandau, Kecamatan Batang Kawa, Kecamatan Bulik, Kecamatan Belantikan Raya, Kecamatan Sematu Jaya, dan Kecamatan Bulik Timur.
“Banjir merendam 35 desa dan 3 kelurahan di 7 kecamatan. Sebanyak 91 fasilitas umum dan 7 fasilitas sosial ikut terendam,” beber Plt Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Ray Paskan.
Banjir kali ini juga mengakibatkan 2.946 unit rumah terendam. “Hingga saat ini total ada 9.740 jiwa dari 3.238 kepala keluarga terdampak, sedangkan yang mengungsi sejumlah 53 kepala keluarga atau 207 jiwa,” jelasnya.
Bupati Lamandau H Hendra Lesmana mengatakan, terkait bencana banjir ini, pemerintah kabupaten bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti TNI, Polri, dinas terkait, sukarelawan, dan masyarakat untuk upaya penanganan darurat dengan menyalurkan bantuan sembako.
“Total lebih dari seribuan paket bantuan sudah disalurkan ke sejumlah titik untuk membantu kebutuhan warga yang rumahnya terendam banjir,” kata Bupati Hendra.
Sebagai bentuk antisipasi, sejak jauh-jauh hari pemerintah daerah juga telah mendirikan tenda darurat (posko) yang tersebar di sejumlah titik. Juga ada upaya evakuasi ke rumah-rumah warga. “Tim akan disiagakan terus untuk memantau ketinggian air, termasuk melakukan evakuasi ke rumah-rumah warga,” sebutnya.
Terpisah, Kepala BPBPK Kalteng Falery Tuwan mengatakan, banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalteng diakibatkan intensitas curah hujan yang tinggi belakangan, sebagaimana prediksi pihak BMKG yang menyebut musim hujan datang lebih awal.
“Kemarin sempat menyurut (banjir), jadi tinggal tiga kabupaten, terus hujan lagi mulai dua hari yang lalu dengan intensitas cukup tinggi, sehingga jumlah kabupaten yang terendam banjir bertambah jadi sembilan,” ucap Falery Tuwan kepada Kalteng Pos, Minggu (16/10).







