SAMPIT-Saat rapat koordinasi penetapan status siaga darurat bencana kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum lama ini, pihak Badam Meteorologi Klimatologi dan Geofi sika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit memaparkan prakiraan puncak musim panas atau kemarau tahun ini adalah di bulan Juli 2023.
“Pihak BMKG telah menyampaikan bahwa diperkirakan puncak musim panas atau kemarau adalah bulan Juli, Berarti bulan Agustus dan September 2023 kemungkinan baru ada penurunan musim panasnya,” kata Bupati Kabupaten Kotim Halikinnor, Jumat (26/5).
Dirinya mengatakan, Kabupaten Kotim termasuk daerah yang sangat rawan terhadap bencana karhutla. Bencana kabut asap yang pernah terjadi beberapa tahun lalu harus menjadi pelajaran agar jangan sampai terulang kembali.
“Karhutla menimbulkan dampak buruk luas, baik terhadap kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lainnya. Maka untuk itu karhutla harus sama-sama kita cegah karena sangat merugikan masyarakat dan juga daerah,” ujar Halikin.
Ia juga meminta Badan Penganngulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama semua pihak terkait dapat mengoptimalkan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla, dan juga meminta kepada masyarakat Kabupaten Kotim untuk tidak membakar lahan, terlebih saat musim panas seperti ini.
“Saya berharapan pada saat puncak panas itu tidak terjadi karhutla luar biasa yang mengakibatkan dampak terhadap semua aspek, makanya saya menyampaikan dengan rekan-rekan yang selama ini menangani masalah pencegahan karhutla supaya lebih banyak mengedukasi masyarakat, agar bencana tersebut tidak terjadi,” tutupnya. (bah/ans/ko)