Mahasiswa Perantau Harus Pintar Mengelola Keuangan

oleh
oleh
Dr Fitria Husnatarina

PALANGKA RAYA – Mahasiswa yang memilih berkuliah jauh harus memiliki keterampilan mengelola keuangan dengan baik dan efektif. Keterampilan mengelola keuangan sangat penting untuk menjaga agar proses merantau untuk berkuliah dapat berjalan dengan lancar. Setidaknya keadaan keuangan tidak menghambat proses studi di perantauan.

Oleh karena itu, mahasiswa memerlukan keterampilan mengelola keuangan dengan baik. Hal ini diungkapkan oleh pengamat ekonomi dari Universitas Palangka Raya (UPR), Dr Fitria Husnatarina SE MSi.

“Ketika kebutuhan pokok sepanjang proses studi sudah terpenuhi dan mahasiswa sudah mempunyai keterampilan mengelola keuangannya, maka kemungkinan besar mereka sudah bisa mengeluarkan uang untuk saving, baik berinvestasi kecil-kecilan, menabung, berbisnis kecilkecilan, dan lain-lain,”jelas Fitria kepada Kalteng Pos via pesan suara WhatsApp, Sabtu (10/6).

Menurut wanita yang menamatkan studi sarjana di jurusan akuntansi Universitas Merdeka Malang tahun 2000 ini, mahasiswa harus dapat mengidentifikasi dan memetakan kebutuhankebutuhan mereka selama menjalani proses studi di perantauan. Ketika uang sudah dikirim oleh orangtua dari kampung halaman, maka uang tersebut harus digunakan dengan efektif demi menunjang kelancaran hidup dan belajar selama di perantauan.

“Mahasiswa yang hidup di perantauan harus betulbetul cermat menentukan skala prioritas pengeluaran keuangan mereka, skala prioritas itu bukan menggelontorkan uang karena motivasi keinginan, tapi motivasi kebutuhan,” tutur wanita kelahiran Pulang Pisau, 1 Maret 1979 itu.

Dalam proses identifikasi kebutuhan tersebut, lanjut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPR itu, mahasiswa harus mampu mengeliminasi hal-hal tidak penting yang berpotensi dapat menguras isi dompet mereka.

“Mahasiswa, kadang karena pergaulan, bisa nongkrong dan hidup boros. Oleh karena itu, mereka harus mampu mengeliminasi non value addict, halhal yang membuat mereka mengeluarkan keuangan akan sesuatu yang tidak penting,” tuturnya.

Baca Juga:  Baru Tayang, Lagu Terbaru Sydney Ditonton Ribuan Penonton

Kebutuhan dasar mahasiswa selama dalam perantauan adalah hal-hal yang amat menentukan kelancaran berkuliah. Menurut Fitria, kebutuhan perkuliahan tersebut beberapa di antaranya adalah membayar uang kuliah tunggal (UKT), biaya membeli buku bahan ajar, biaya laboratorium, dan biaya untuk melakukan studi atau penelitian di luar kampus.

“Tentu prioritas atau tujuan utama mahasiswa perantau itu kan berkuliah, oleh karena itu hal yang menjadi prioritas adalah pendidikan. Maka, jangan ketika dikirim biaya UKT atau SPP malah digunakan untuk hal-hal lain, akhirnya salah memanage keuangan,” katanya.

Dosen Jurusan Akuntansi FEB UPR ini berpendapat, menjalani perkuliahan di tanah rantau adalah proses pendewasaan diri dalam pemikiran para mahasiswa yang memilih berkuliah jauh. Akan banyak dinamika kehidupan yang akan dialami oleh mahasiswa selama merantau.

Namun demikian, lanjut Fitria, hal itu adalah proses alamiah dari keputusan yang diambil.

“Proses merantau itu akan dengan sendirinya mendidik mahasiswa, apakah mereka mampu menyelesaikan berbagai masalah, tidak hanya masalah mengelola keuangan, tapi banyak lagi yang lainnya, yang mana dari proses itulah tumbuh pendewasaan,” kata wanita yang juga merantau selama menempuh masa studi sarjana sampai doktoralnya itu.

Menurut Fitria, mahasiswa dapat mencegah ketidakmampuan atau kekurangan uang selama di perantauan dengan rajin menabung atau berinvestasi.

Meski demikian, lanjut Fitria, kemampuan mengelola keuangan itu akan tumbuh seiring dengan semakin mandirinya perantau.

“Proses merantau pada dasarnya adalah proses di mana mereka (mahasiswa, red) mendedikasikan diri untuk survive dalam kehidupan mereka, apapun yang mereka hadapi nantinya, akan menjadi pembelajaran bagi mereka untuk lebih baik lagi,” tandasnya. (ko)