Istri dan ketiga anaknya tampak riang selama berada di pengungsian bersama pengungsi lainnya. “Alhamdulillah, semua anggota keluarga saya selamat. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran itu,” ungkapnya.
Ditanya bakal ke mana jika masa pengungsian berakhir, pria berusia 40 tahun itu menjawab belum tahu. “Tidak tahu lagi setelah ini mau ke mana,” ucapnya dengan tatapan kosong.
Meski demikian, Adi berharap ada pihak yang bisa mengganti kerugian material bencana kebakaran tersebut. “Atau bisa juga dibangun rumah di lokasi-lokasi tertentu, karena lokasi itu (lokasi kebakaran, red) jalur hijau,” tambahnya.
Tikar berlogokan BNPB terbentang memenuhi setengah lapangan Gor KONI. Tiap blok untuk satu keluarga. Tak sedikit yang berdekatan. Terutama yang sebelumnya merupakan tetangga.
Lokasi pengungsian begitu ramai pagi itu. Bising suara anak-anak bermain. Anak lakilaki bermain bola, memanfaatkan setengah lapangan indoor. Anak perempuan bernyanyi, menari, dan bertepuk tangan. Tak sedikit donatur yang datang menghibur anak-anak maupun menyemangati para orang tua.
Tangisan bayi menambah kebisingan. Sumiati segera menenangkan cucunya yang berusia 10 bulan itu. Hanya berselang lima menit, sang bayi sudah terlelap. Tak lama kemudian, sejumlah donatur masuk ke tengah lapak pengungsian. Membawa serta makanan, pakaian, dan mainan anak-anak dalam plastik berukuran besar.
Ketika ikatan plastik dilepas oleh donatur, Sumiarti bersama pengungsi lain langsung menyerbu untuk mengambil makanan apa saja yang bisa diambil dan dibutuhkan. Berdesak- desakan.
“Kalau tidak cepat, tidak akan dapat, tetapi kalau ada lebihan, tidak salah juga berbagi dengan lapak sebelah,” tutur Sumiarti yang kedua tangannya sudah memegang sejumlah makanan ringan dan boneka beruang berwarna merah.







