PALANGKA RAYA-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus terjadi di wilayah Kota Palangka Raya. Tiap hari selalu ada laporan warga mengenai karhutla. Cuaca panas dan angin kencang mengakibatkan kebakaran mudah meluas dan menjalar di ibu kota provinsi. Petugas tak kenal lelah menjinakkan bara api yang membakar semak belukar di lahan gambut.
SUMBER “Ada peningkatan titik api atau hotspot dalam beberapa hari terakhir akibat cuaca yang sangat panas dan kering, ditambah lagi angin yang sangat kencang sehingga mempermudah api membesar,” kata Sipet yang merupakan koordinator posko siaga karhutla, Minggu (3/9).
Ia menyebut, sepanjang tahun 2023 tercatat kejadian karhutla sebanyak 233, dengan luas lahan tervakar 180,94 hektare (ha). Dalam upaya pemadaman, tak jarang para petugas kesulitan menemukan sumber air di sekitar lokasi kejadian, karena kolam maupun parit atau pengaringan mengering.
“Selama ini para petugas hanya mengandalkan pasokan air dari tanki dan sumur bor masyarakat. Selama ini yang jadi kendala di lapangan adalah sumber air yang sulit ditemukan di sekitar lokasi kebakaran,” ungkap Sipet.
Sipet menyebut, para petugas tengah melakukan pemadaman di 13 titik kebakaran lahan di sekitar wilayah Kota Palangka Raya, berdasarkan laporan yang masuk ke posko induk. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan cara membakar saat membersihkan lahan. Sebab beberapa kasus karhutla terjadi karena api yang tak dapat terkontrol lagi saat warga membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Kami tidak melarang untuk membersihkan lahan, silakan dibersihkan, tetapi jangan dengan cara membakar, karena dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran yang tidak bisa dikendalikan, apalagi saat ini musim kemarau dan tak jarang angin tiupan angin cukup kencang, itu akan mengakibatkan semak belukar dan gambut mudah terbakar,” tegasnya.
Upaya pemadaman terus dilakukan oleh pemerintah melalui satuan tugas (satgas) karhutla. Meski demikian, satgas juga diharapkan lebih bekerja keras untuk melakukan pencegahan. Seperti mengidentifikasi daerah-daerah rawan terbakar, sehingga dapat menjalankan langkah preventif yang tepat sasaran.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng Bayu Herinata berpendapat, upaya pencegahan yang dilakukan oleh satgas selama ini belum maksimal. Pencegahan yang dimaksud seperti mengidentifikasi lokasi-lokasi yang rawan karhutla dan potensi terjadi api tinggi.
“Kalau hasil monitoring kami beberapa waktu lalu, karhutla ini sering terjadi di lokasi-lokasi yang sebelumnya juga pernah terjadi karhutla, seperti di pal 10 dan pal 14 Jalan Tjilik Riwut, lalu di daerah Adonis Samad dan sekitar bandara. Jadi, perlu dipastikan wilayah itu tidak terbakar lagi. Itulah yang belum maksimal dilakukan,” ujar Bayu kepada Kalteng Pos, Minggu (3/9).
Karhutla disinyalir terjadi akibat ulah oknum-oknum tertentu yang sengaja membakar lahan. Beberapa kasus tengah diselidiki pihak kepolisian. Menanggapi itu, Bayu menyebut pihak kepolisian seharusnya lebih tahu bahwa karhutla disebabkan oleh faktor manusia.
“Untuk menyelidiki itu, kepolisian dapat mengidentifikasi pelaku. Misalnya, berkoordinasi dengan pihak kelurahan setempat, ATR/BPN, dan masyarakat setempat untuk mengetahui siapa pemilik tanah dan aktor di balik kebakaran yang terjadi,” jelasnya.
Bayu menegaskan perlu ada sinkronisasi data dan upaya dari pihak kepolisian untuk mencari dan menemukan pelaku-pelaku yang menjadi dalang kasus kebakaran yang terjadi.
Walhi Kalteng juga menilai upaya pemadaman jalur darat yang dilakukan satgas sejuh ini belum bisa maksimal karena sulit menemukan titik air di lokasi karhutla. Hal-hal seperti ini, lanjut Bayu, bisa dilakukan upaya antisipasi dengan membuat embung darurat ataupun pengeboran sumur air.
“Daerah-daerah rawan karhutla perlu diidentifikasi, lalu dilakukan pembangunan infrastruktur pembasahan atau penyediaan sumber air,” ujar Bayu.
Menurut Bayu, hal yang juga tak kalah penting adalah keterlibatan penuh masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Menurutnya, akan lebih efektif upaya pencegahan karhutla dilakukan berdasarkan pengalaman dan rekomendasi dari masyarakat di daerah-daerah rawan karhutla. (ko)







