Ditambahkan Presiden, pompanisasi yang sudah berjalan ini terbukti mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP), dari yang sebelumnya hanya satu kali tanam dalam setahun menjadi tiga kali setahun.
“Dengan pompa pertanaman yang sebelumnya satu kali bisa jadi dua atau tiga, ini kan bisa menaikkan produktivitas padi para petani, sangat bagus, selain masalah-masalah yang lain yang berkaitan dengan pupuk terus kita pantau agar tepat waktu,” jelas Jokowi.
Penyiapan sektor pertanian dengan pompanisasi itu juga menjadi langkah awal pemerintah pusat untuk mempersiapkan wilayah penyangga pangan ibu kota Nusantara (IKN). Jika di Kotim mengalami kenaikan produktivitas pangan, maka kelebihan itu akan dialihkan ke wilayah IKN.
“Jika indeksnya naik dari yang biasanya panen satu kali menjadi tiga kali, artinya ada kelebihan produksi beras, nanti akan di bawa ke IKN. Tidak hanya di Kotim saja, tetapi juga kabupaten lain yang mengalami kelebihan produksi dengan adanya pompanisasi ini,” tutupnya.
Di tempat yang sama, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pompanisasi di Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi langkah antisipatif yang strategis dalam menghadapi tantangan El Nino dan perubahan iklim yang makin tidak menentu.
“Wilayah ini memiliki potensi luas sawah tadah hujan 7.620 hektare, di mana 30 pompa yang tersedia ini mampu mengairi lahan seluas 435 hektare, dan diharapkan mampu meningkatkan IP dari 100 ke 300 dengan sumber air berasal dari Sungai Peang,” katanya.
Mentan mengatakan, dampak pompanisasi terhadap produksi gabah kering giling (GKG) sangat signifikan, terutama dalam menghasilkan tambahan produksi sebesar 2.784 ton, yang merupakan kenaikan sebesar 9,82 persen dari tahun sebelumnya.







