Saat menyapa masyarakat, Jokowi kemudian menanyakan kualitas beras yang diberikan pemerintah. Ia ingin memastikan beras yang dikonsumsi masyarakat dalam kondisi baik karena merupakan beras premium.
“Mengurus yang namanya beras itu bukan gampang, kalau harganya naik, petani pasti seneng, tapi ibu-ibu seneng nggak?” tanya Jokowi, yang seketika dibalas tidak oleh warga yang mayoritas merupakan ibu-ibu rumah tangga.
“Ini bertolak belakang, ibu-ibu nggak senang kalau beras naik, tapi kalau beras terlalu menurun harganya, nanti petani malas ke sawah,” tambahnya.
Maka dari itu, lanjut Jokowi, sudah menjadi tugas pemerintah untuk menyeimbangkan kebijakan, agar petani tetap dapat menikmati untung, sementara masyarakat tidak menjerit karena harga yang tinggi.
“Maka kalau harga bawang naik, cabai naik, bawang naik, daging naik, itu tanggung jawabnya Pak Kepala Badan Pangan Nasional,” sebutnya.
Presiden RI dua periode ini menyebut, jika memang stok dalam negeri kurang, maka mau tidak mau harus mengambil kebijakan impor beras, supaya harga beras nasional tidak mengalami kenaikan. Sebab, jika suplai kurang, otomatis harga akan naik.
“Tapi sekarang kita bisa tenang karena stok beras beras sekarang 1,7 juta ton, coba bayangkan sebanyak apa, di sini sendiri kalau ibu-ibu masih ragu, bisa lihat di dalam, sebanyak apa berasnya,” ujarnya sembari menunjuk gudang Bulog yang berisi berton-ton beras.(mif/dan/eri/irj/ce/ala/ko)







