Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi, DPRD Palangka Raya Ajak Semua Pihak Lebih Peka

oleh
oleh
Rana Muthia Oktari
Rana Muthia Oktari

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Palangka Raya masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Sepanjang 2025, sebanyak 43 kasus tercatat, angka yang menunjukkan perlunya langkah pencegahan yang lebih terstruktur dan melibatkan banyak pihak agar tidak kembali terulang di tahun 2026.

Sekretaris Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Rana Muthia Oktari menilai benteng pertama dalam melindungi anak dari kekerasan berada di lingkungan keluarga. Menurutnya, orang tua memegang peranan vital dalam memastikan tumbuh kembang anak berlangsung dalam situasi yang aman dan sehat.

“Dalam kasus kekerasan terhadap anak, keluarga adalah lingkungan terdekat. Orang tua harus benar-benar hadir dan melakukan pengawasan, baik saat anak berada di rumah, di sekolah, maupun ketika berinteraksi di luar,” ujar Rana, Selasa (20/1).

Ia menambahkan, pengawasan tersebut perlu dibarengi dengan pemahaman yang baik dari orang tua mengenai kondisi psikologis anak. Edukasi bagi orang tua dinilai penting agar mereka mampu membaca perubahan perilaku anak yang bisa menjadi sinyal awal terjadinya kekerasan atau perundungan.

Selain keluarga, peran sekolah juga tak kalah penting. Rana menekankan perlunya optimalisasi fungsi guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta wali kelas dalam memantau kondisi siswa. Menurutnya, guru memiliki intensitas pertemuan yang tinggi dengan anak sehingga harus lebih peka terhadap perubahan sikap maupun perilaku siswa.

Baca Juga:  Khemal Ajak Warga Palangka Raya Ubah Pola Konsumsi di Tengah Harga Minyakita Tinggi

“Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah bersama guru. Jika tiba-tiba ada perubahan, seperti menjadi lebih pendiam, murung, atau terlihat ketakutan, itu patut dicermati. Guru BK dan wali kelas harus lebih responsif,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kasus bullying maupun pelecehan kerap tidak terungkap secara langsung, namun dapat terdeteksi melalui perubahan sikap korban. Oleh karena itu, kepekaan lingkungan sekolah menjadi faktor krusial dalam mencegah kekerasan sejak dini.

Tak hanya keluarga dan sekolah, Rana juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dan tidak menutup mata terhadap kekerasan yang terjadi di sekitar mereka.

“Masih ada anggapan bahwa ini bukan urusan kita. Padahal, sikap acuh justru memperparah kondisi korban. Jika melihat atau mengetahui indikasi kekerasan, masyarakat harus berani peduli dan membantu,” tegas Srikandi Partai NasDem ini.

Ia berharap, sinergi antara orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat dapat semakin diperkuat, sehingga upaya perlindungan terhadap anak dan perempuan di Kota Palangka Raya berjalan lebih efektif dan angka kekerasan dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang. (ham/ko)