SAMPIT, Kaltengonline.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) sepanjang Januari 2026 pada Kamis (22/1) kemarin. Penetapan status tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar potensi kebakaran tidak meluas. Status tersebut berlangsung sejak 23 Januari hingga 21 Februari 2026 mendatang.
Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, mengatakan hingga Januari 2026 tercatat sebanyak 61 titik hotspot di wilayah Kotim. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah cepat dengan menetapkan status siaga.
“Memang ada beberapa peningkatan hotspot di Kabupaten Kotim. Pada bulan Januari ini totalnya ada 61 titik hotspot, sehingga kita memutuskan status siaga darurat karhutla di Kabupaten Kotim,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penetapan status siaga juga menindaklanjuti arahan Wakil Bupati Kotim agar seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terlibat aktif dalam upaya pengendalian karhutla. Keterlibatan tersebut mencakup OPD pemerintah daerah, instansi vertikal, hingga unsur terkait lainnya.
“Ada beberapa OPD yang wajib terlibat, baik OPD daerah, instansi vertikal, maupun instansi terkait lainnya, agar kita bisa bekerja sama-sama dalam pengendalian karhutla,” katanya.
Umar berharap jumlah hotspot tersebut tidak terus bertambah dan justru dapat berkurang melalui kerja sama lintas sektor di lapangan. Ia juga menaruh harapan pada prakiraan cuaca dari BMKG yang menyebutkan adanya potensi hujan pada akhir bulan ini.
“Mudah-mudahan sesuai prediksi BMKG ada curah hujan di akhir bulan ini, sehingga 61 titik hotspot tadi bisa berkurang. Itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyebut penetapan status siaga didasarkan pada sejumlah indikator di lapangan, termasuk kejadian kebakaran yang sudah terjadi serta kondisi lingkungan yang semakin kering. Setidaknya ada delapan kejadian kebakaran sejak awal Januari hingga Kamis ini dengan total luasan lahan 6,5 hektar.
“Kemarin sudah ada tiga kejadian kebakaran yang kita tanggulangi. Itu sudah mengisyaratkan bahwa wilayah Kotim sangat mudah terbakar,” jelasnya.
Ia menambahkan, penurunan muka air tanah menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko karhutla. Berdasarkan data Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) yang dihimpun BPBD, penurunannya berada di kisaran minus 35 hingga minus 60 sentimeter.
“Kami tidak merestui pembukaan lahan dengan cara membakar. Apalagi angin masih di kisaran 7 sampai 10 kilometer per jam dari arah barat dan barat laut, itu sangat berpotensi menyebabkan perluasan kebakaran,” imbuhnya. (mif/ans/ko)







