PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya menaruh perhatian serius terhadap persoalan pengelolaan sampah perkotaan yang kian kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas kota.
Sebagai kota yang memiliki karakter unik karena mencakup kawasan hutan, perkotaan, dan pedesaan, Palangka Raya menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin mengatakan persoalan sampah bukan hanya menjadi tantangan daerah, tetapi juga dialami oleh kota-kota dan negara di berbagai belahan dunia. Permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah terus meningkatnya timbunan sampah setiap tahun.
“Permasalahan dasar yang kita hadapi adalah semakin bertambahnya timbunan sampah. Ini disinyalir akibat pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan meningkatnya aktivitas kota,” ujar Fairid di depan perwakilan National Institute of Green Technology (NIGT) di Swiss Bell Hotel Danum, baru-baru ini.
Berdasarkan data, total timbulan sampah di Kota Palangka Raya saat ini mencapai 59.241 ton per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga 73.143 ton pada tahun 2030, jika tidak diimbangi dengan pengelolaan yang optimal.
Menghadapi kondisi tersebut, Fairid menegaskan pentingnya langkah pencegahan atau preventif dalam pengelolaan sampah agar tidak menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.
“Kami lebih mengutamakan pencegahan. Jangan sampai persoalan sampah ini menjadi bom waktu ekologis bagi Kota Palangka Raya,” tegasnya.
Ia menekankan prinsip pemerintah kota dalam mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menurutnya, sampah yang dibuang ke TPA harus ditekan seminimal mungkin melalui berbagai upaya pengolahan di hulu.
“Kami memiliki prinsip bahwa bagaimana membuang sampah ke TPA itu seminimal mungkin,” katanya.
Saat ini, dari total 100 persen timbulan sampah, Kota Palangka Raya baru mampu mengolah sampah sekitar 26 persen. Sementara itu, sebanyak 71 persen sampah masih diangkut ke TPA, dan sekitar 1,93 persen sampah belum terkelola sehingga berpotensi mencemari lingkungan.
Orang nomor satu di Kota Cantik itu menyebut, capaian tersebut masih jauh dari target nasional yang menetapkan pengolahan sampah minimal 50 persen. Namun demikian, Pemerintah Kota Palangka Raya telah menetapkan target yang lebih ambisius.
“Target nasional itu 50 persen, tapi kami ingin lebih dari itu. Bahkan kami menargetkan pada tahun 2029 pengolahan sampah bisa mencapai 100 persen,” ungkapnya. (ham/ans/ko)







