Edukasi Warga Jadi Kunci Pencegahan Karhutla Kotim

oleh
Sihol Parningotan Lumban Gaol
Sihol Parningotan Lumban Gaol

SAMPIT, Kaltengonline.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan peningkatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi langkah paling krusial dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul penetapan status Siaga Darurat Karhutla di wilayah tersebut.

Legislator menilai, perubahan pola cuaca yang mulai mengering meski masih diselingi hujan di sejumlah kawasan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama apabila tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Anggota Komisi III DPRD Kotim, Sihol Parningotan Lumban Gaol, menekankan upaya pencegahan harus dimulai dari tingkat paling dasar, yakni perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan lahan.

“Edukasi harus terus diperkuat. Kesadaran masyarakat menjadi benteng utama agar praktik pembakaran lahan bisa dicegah sejak awal,” ujarnya, Kamis (29/1).

Ia mengingatkan, kondisi cuaca seperti saat ini kerap dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk membuka lahan dengan cara dibakar karena dianggap lebih cepat dan murah. Padahal, metode tersebut menyimpan risiko besar dan dapat memicu kebakaran meluas yang sulit dikendalikan.

“Sekali api lepas kendali, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tapi juga kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi,” tegasnya.

Baca Juga:  Aspirasi Seranau Harus Dikawal Serius, DPRD Soroti Jalan Poros dan Usaha Tani

Gaol menilai, penetapan status siaga darurat tidak boleh berhenti sebatas keputusan administratif. Menurutnya, status tersebut harus diiringi dengan langkah konkret di lapangan, terutama melalui sosialisasi intensif dan berkelanjutan oleh seluruh unsur yang tergabung dalam komando penanganan Karhutla.

Selain aspek pencegahan, DPRD Kotim juga menyoroti kesiapan teknis pemerintah daerah dalam menghadapi potensi kebakaran. Ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama perangkat daerah terkait memastikan kesiapan armada, peralatan pemadaman, serta personel.

“Semua peralatan harus dipastikan siap pakai. Jangan sampai ketika kejadian muncul, justru terkendala alat atau personel,” katanya.

Tak kalah penting, Gaol juga mengingatkan perlunya pengecekan sumber air, termasuk sumur bor yang telah dibangun di sejumlah titik rawan kebakaran. Ketersediaan air dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan Karhutla di lapangan.

“Antisipasi harus dilakukan sejak dini. Apalagi, potensi kemarau panjang diperkirakan mulai masuk sekitar Bulan Mei. Kesiapsiagaan tidak boleh musiman, tetapi harus berkelanjutan,” pungkasnya. (bah/ans/ko)