PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com — Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H. Agustiar Sabran menilai keterbatasan sumber daya manusia, khususnya di kalangan generasi muda, menjadi salah satu faktor utama belum optimalnya pelaksanaan program nasional cetak sawah di wilayah Kalteng. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya terletak pada ketersediaan lahan, melainkan minimnya minat tenaga kerja di sektor pertanian.
Gubernur mengungkapkan, dari target pengembangan sekitar 30 ribu hektare lahan cetak sawah, masih terdapat kurang lebih 17 ribu hektare yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kekurangan tenaga kerja, terutama pada tahap penanaman, menjadi kendala serius dalam mempercepat realisasi program tersebut.
“Dari target 30 ribu hektare, masih sekitar 17 ribu hektare yang belum bisa digarap maksimal karena kekurangan tenaga kerja, terutama di tahap penanaman,” ujarnya, Sabtu (31/1).
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mendorong generasi muda agar melihat sektor pertanian sebagai peluang masa depan, bukan sekadar pekerjaan tradisional yang kurang menjanjikan.
“Artinya kita bukan kekurangan lahan, tetapi kekurangan orang yang mau terjun langsung ke pertanian. Ini soal pola pikir yang harus kita ubah, terutama di kalangan anak muda,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, Pemerintah Provinsi Kalteng menggulirkan program satu rumah satu sarjana setara strata satu (S-1) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah. Salah satu tujuannya, program ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang terdidik, adaptif, dan memiliki kesadaran akan peran strategis sektor pertanian dalam menjaga ketahanan pangan. Disisin lain, pihaknya juga telah menyiapkan program vokasi pertanian.
“Program satu rumah satu sarjana bukan hanya soal pendidikan, tetapi bagaimana membentuk SDM yang siap berkontribusi di sektor-sektor produktif, termasuk pertanian,” jelasnya.
Gubernur juga menyoroti kecenderungan generasi muda yang lebih berorientasi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), sementara peluang besar di sektor pertanian dan usaha produktif lainnya masih terbuka luas.
“Kita tidak ingin anak-anak muda hanya terpaku ingin menjadi ASN. Mereka harus punya wawasan, keterampilan, dan keberanian untuk mengelola potensi daerahnya sendiri. Salah satunya melalui program cetak sawah,” katanya.
Melalui penguatan vokasi pertanian, peningkatan kualitas pendidikan, serta keterlibatan aktif generasi muda, Pemerintah Provinsi Kalteng berharap program cetak sawah dapat berjalan lebih optimal sekaligus menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan pangan daerah. (ovi/ko)






