Gubernur Kalteng Milik Semua Golongan

oleh
SAPA MASYARAKAT: Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran menghadiri melalui Malam Puncak Gebyar Undian Taheta Periode XXIX Tahun 2025 di Gor Indoor Serbaguna Palangka Raya, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 5,5, Sabtu malam (7/2).
SAPA MASYARAKAT: Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran menghadiri melalui Malam Puncak Gebyar Undian Taheta Periode XXIX Tahun 2025 di Gor Indoor Serbaguna Palangka Raya, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 5,5, Sabtu malam (7/2).

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan posisi kepemimpinannya sebagai milik seluruh masyarakat, tanpa sekat suku, agama, maupun golongan atau kelompok tertentu. Di tengah dinamika politik nasional yang kerap memanas akibat isu identitas, sikap Gubernur Kalteng ini menunjukkan upaya mengelola identitas secara sadar, bukan menghindarinya, apalagi mengeksploitasinya.

“Saya ini bukan bapak satu suku atau satu agama, tapi bapak seluruh masyarakat Kalimantan Tengah,” tegas Agustiar Sabran, belum lama ini.

Pernyataan tersebut menjadi pesan politik yang kuat di tengah karakter Kalimantan Tengah sebagai daerah multietnis, multiagama, dan multikultural, yang secara sosial tergolong sensitif jika isu identitas tidak dikelola dengan hati-hati.

Kalimantan Tengah dihuni oleh beragam latar belakang Dayak, Banjar, Jawa, Bugis, Madura, hingga komunitas pendatang lain dengan keberagaman agama dan budaya yang hidup berdampingan. Dalam konteks ini, narasi kepemimpinan inklusif menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sosial.

Baca Juga:  Efisiensi Anggaran Jadi Arah Kebijakan, Pemprov Kalteng Tekankan Program Berdampak

Agustiar menyadari bahwa kebersamaan tidak selalu terbentuk secara instan.

“Kalau ada kebersamaan itu, ada kesadaran itu. Memang awal itu susah, tapi lama-kelamaan akan timbul kecocokan,” ujarnya.

Menurutnya, kebersamaan harus dibangun di atas rasa saling memahami, bukan sekadar slogan persatuan. Dalam pandangannya, nilai budaya daerah menjadi fondasi utama untuk merawat kebinekaan. Nama Isen Mulang yang sarat makna pantang menyerah dan kebersamaan disebut sebagai simbol identitas bersama masyarakat Kalimantan Tengah.

“Nama itu sudah indikasi kita, nama budaya kita. Akan ada rasa itu, akan ada asa itu untuk mencapai tujuan bersama,” kata Agustiar. (*rif/ko)