Kuota Program Satu Rumah Satu Sarjana Diperluas

oleh
Gubernur H Agustiar Sabran pada acara Silaturahmi dan Ramah Tamah Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif RI Yovie Widianto di Istana Isen Mulang, Selasa (10/2).
Gubernur H Agustiar Sabran pada acara Silaturahmi dan Ramah Tamah Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif RI Yovie Widianto di Istana Isen Mulang, Selasa (10/2).

Disampaikan Gubernur Kalteng saat Menyambut Staf Khusus Presiden

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran menyatakan bahwa program Satu Rumah Satu Sarjana telah menjadi bagian dari kebijakan Peme­rintah Provinsi, dengan rencana perluasan kuota bagi masyarakat, terutama dari wilayah pedalaman. Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur saat acara Silaturahmi dan Ramah Tamah Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif RI Yovie Widianto bersama Gubernur Kalimantan Tengah di Istana Isen Mulang, Selasa (10/2).

“Kami juga ada program Satu Rumah Satu Sarjana, Pak. Tentunya kuota akan kami tambah lagi,” ujar Agustiar dalam sambutannya.

Gubernur mengungkapkan bahwa program tersebut sebelumnya telah berjalan dengan kuota sekitar 3 ribu penerima, dan ke depan ditargetkan dapat meningkat hingga sekitar 15 ribu peserta, seiring dengan pendataan lanjutan bagi masyarakat di daerah terpencil.

“Kami ingin menambah kuota program ini. Pendataan dari pedalaman masih berjalan,” katanya.

Menurut Agustiar, program ini bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi keluarga kurang mampu, sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Bumi Tambun Bungai.

“Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan,” tegasnya.

Namun, Gubernur juga mengakui bahwa keterbatasan anggaran daerah dan kebijakan efisiensi menjadi tantangan dalam pengembangan program pendidikan, sehingga pemerintah provinsi saat ini memprioritaskan penguatan pendidikan menengah sambil tetap mendorong akses ke perguruan tinggi.

“Karena efisiensi, kami fokus di SMA, tetapi program sarjana tetap kami jalankan,” ujarnya.

Meski demikian, Pemprov Kalteng menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi, terutama bagi generasi muda di wilayah pedalaman, sebagai bagian dari visi pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Sebelumnya, dalam acara Stadium Generale di Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah Provinsi Kalteng Herson B. Aden turut menegaskan bahwa Pemprov Kalteng juga mendukung penguatan sumber daya manusia melalui berbagai program pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta program unggulan “Satu Rumah Satu Sarjana.” Menurut Herson, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi generasi muda melalui pendidikan vokasi, khususnya pada jenjang Diploma Satu (D1), bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah.

Baca Juga:  Kartu Huma Betang Jangkau Semua Profesi, Resmi Diluncurkan 20 Februari 2026

“Anak-anak kita harus dibekali keterampilan dan kompetensi. Dengan pendidikan vokasi, mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi dapat naik ke level pengawas atau tenaga terampil dengan pendapatan yang lebih baik,” ujar Herson, Selasa (10/2).

Program vokasi ini dirancang dengan pola pembelajaran kombinasi, yakni 3 sampai 6 bulan pembelajaran di kelas dan 6 bulan praktik langsung di lapangan, menyesuaikan dengan kebutuhan dunia industri.

Pemerintah Provinsi Kalteng juga menerapkan pendekatan jemput bola dengan menggandeng perusahaan untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan tenaga kerja, sehingga lulusan memiliki daya saing dan relevansi tinggi dengan pasar kerja.

Sementara itu, Sementara itu, Yovie Widianto memberikan apresiasi atas kolaborasi kuat antara jajaran Pemerintah Provinsi Kalteng dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BIN, Kepolisian, Pemerintah Kota, Bank Indonesia, serta seluruh komponen pembangunan daerah. Ia mengaku terharu dengan semangat para pemuda dan pelaku ekonomi kreatif di Palangka Raya yang tetap berkarya di tengah berbagai keterbatasan.

“Saya percaya, kreativitas justru sering lahir dari keterbatasan, baik keterbatasan modal, fasilitas, maupun waktu. Dari sanalah biasanya lahir karya besar,” ujar Yovie.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia di Kalteng dinilai sudah berada di atas rata-rata, baik dari segi visi, pemikiran, maupun keterampilan. Ia mendorong agar potensi tersebut diperkuat melalui investasi, pembinaan, dan penyediaan infrastruktur yang memadai.

Ia juga mengapresiasi komitmen Gubernur dalam memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan, serta dorongan terhadap kampus dan generasi muda sebagai motor transformasi daerah.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, pusat, dunia pendidikan, dan pelaku kreatif, Yovie optimistis Kalimantan Tengah mampu menjadi kekuatan baru dalam peta ekonomi kreatif nasional. (ovi/ala/ko)