SAMPIT, Kaltengonline.com – Bandara H Asan Sampit resmi mengantongi Sertifikat Bandar Udara (SBU) dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, yang menandai kesiapan teknis bandara tersebut untuk melayani pendaratan pesawat berbadan besar sekelas Airbus A320 berkapasitas hingga 180 penumpang. Sertifikasi ini menjadi landasan hukum bagi operator maskapai untuk membuka rute dan mulai beroperasi di Sampit.
Kepala Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur (Kotim), Raihansyah menyebut seluruh persyaratan normatif telah dipenuhi. Dengan terbitnya SBU, pemerintah daerah kini membuka pintu selebar-lebarnya bagi maskapai agar segera masuk melayani penerbangan komersial ke Sampit. Targetnya, penerbangan pesawat jet dapat mulai beroperasi sebelum momentum Lebaran 2026.
“Sertifikat Bandar Udara sudah terbit. Ini jadi dasar kami mengundang operator untuk membuka layanan di Sampit. Harapannya, sebelum Lebaran sudah ada maskapai yang terbang,” ujar Raihansyah, Senin (16/2).
Tak hanya menunggu maskapai, Dishub Kotim juga aktif membangun ekosistem permintaan penumpang. Pendekatan dilakukan kepada pelaku usaha lokal, mulai dari biro perjalanan umrah hingga pengusaha kafe dan sektor jasa lainnya. Para pelaku usaha menyatakan kesiapan menggunakan Bandara H Asan Sampit sebagai titik keberangkatan, asalkan ada kepastian jadwal penerbangan.
“Pelaku usaha siap terbang lewat Sampit selama jadwalnya jelas. Keterlambatan masih bisa ditoleransi, tapi pembatalan mendadak sangat merugikan mereka,” jelasnya.
Dari sisi teknis, hasil kajian tim kementerian menyebutkan panjang dan lebar landasan pacu Bandara H Asan Sampit telah memenuhi standar untuk A320. Namun, ketebalan perkerasan landasan (PCN) masih perlu penguatan sekitar 5 sentimeter. Dampaknya, pesawat jet masih bisa mendarat dengan pembatasan beban, okupansi penumpang berkisar 70 hingga 80 persen, disesuaikan dengan perhitungan bobot pesawat dan bagasi.
“Runway sudah mencukupi panjang dan lebar. Hanya PCN yang perlu ditambah. Artinya, A320 bisa mendarat dengan pengaturan beban penumpang tidak penuh 100 persen,” beber Raihansyah.
Raihansyah menambahkan, rencana pembukaan rute baru dari Sampit mendapat respons positif dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Pemerintah provinsi menilai kehadiran rute baru tidak akan mematikan bandara lain seperti Palangkaraya atau Pangkalan Bun, melainkan memperkuat konektivitas wilayah dan mempercepat pemerataan pembangunan di Kalteng.
“Gubernur menyambut positif, mau Palangkaraya, Pangkalan Bun, Sampit, atau Muara Teweh berkembang, silakan. Semua demi akselerasi pembangunan Kalimantan Tengah,” pungkasnya. (bah/ans/ko)







