SAMPIT, Kaltengonline.com – Pembukaan Pasar Ramadan di kawasan Taman Kota Sampit, Kamis (19/2) sore, tak sekadar menjadi penanda dimulainya aktivitas jual beli takjil. Lebih dari itu, kegiatan tahunan ini dinilai semakin memperlihatkan geliat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Sejak sore hari, warga mulai memadati area pasar untuk berburu aneka hidangan berbuka. Stan-stan berjejer rapi menawarkan beragam menu, mulai dari minuman segar, kue tradisional, hingga makanan berat. Jumlah pedagang pun terlihat lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.
Bupati Kotim, H Halikinnor menyebut ada perbedaan cukup mencolok pada pelaksanaan Pasar Ramadan tahun ini, terutama dari sisi variasi produk dan jumlah stan yang dibuka.
“Kalau kita lihat tadi, yang dijual para pedagang UMKM itu sangat bervariasi. Tahun ini lebih banyak pilihan, bahkan stan-stan yang dibuka juga lebih banyak,” ujarnya.
Menurutnya, Pasar Ramadan bukan hanya tentang suasana berbuka puasa, tetapi juga menjadi ruang strategis bagi UMKM untuk meningkatkan pendapatan. Momentum Ramadan dimanfaatkan pelaku usaha untuk menghadirkan produk-produk yang jarang dijumpai di hari biasa.
“Kalau di luar Ramadan, kita mencari kue tradisional seperti bingka dan lainnya tidak terlalu banyak yang memproduksi. Tapi saat Ramadan ini akan banyak sekali, jadi masyarakat punya banyak pilihan,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan pasar ini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Selain memenuhi kebutuhan berbuka, bazar ini juga menjadi ruang interaksi sosial di tengah masyarakat Kotim yang majemuk.
“Harapan kita dengan adanya Pasar Ramadan ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur, baik yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Tidak hanya yang berpuasa, saudara-saudara kita yang nonmuslim juga pasti akan memanfaatkan momen ini,” ucapnya.
Dengan meningkatnya jumlah pedagang dan ragam dagangan yang ditawarkan, Pasar Ramadan di Taman Kota Sampit diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Di sisi lain, suasana kebersamaan yang tercipta setiap sore menjelang berbuka menjadi warna tersendiri dalam menyambut bulan suci di Bumi Habaring Hurung. (mif/ans/ko)







