Dissiptaka Temukan Al-Qur’an Tulisan Tangan Hingga Foto Pemekaran
MUARA TEWEH, Kaltengonline.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara mencatat perkembangan signifi kan dalam pengelolaan arsip daerah. Tidak hanya fokus pada penyimpanan dokumen modern, lembaga ini kini gencar memburu dan melestarikan arsip-arsip bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang wilayah setempat.
Kepala Dissiptaka Barito Utara, Fakhri Fauzi, menegaskan bahwa tingkat kearsipan di daerahnya telah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu capaian penting yang diungkapkan Fakhri adalah diperolehnya tiga arsip tertulis bersejarah yang memiliki nilai kultural dan spiritual tinggi.
“Sejauh ini, arsip tertulis yang didapatkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berjumlah tiga buah.
Yang pertama, ada naskah khutbah Idul Fitri dan Idul Adha berjumlah dua buah, dan juga Alquran bertulis tangan yang baru-baru ini didapatkan pada akhir tahun 2025 lalu,” jelas Fakhri Fauzi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/4).
Al-Qur’an tulisan tangan yang berhasil diamankan tersebut menjadi perhatian khusus, mengingat kelangkaan dan nilai historisnya yang tinggi.
Menurut Fahri, naskah-naskah kuno ini bukan sekadar lembaran tua, melainkan pintu untuk memahami bagaimana praktik keagamaan dan intelektualitas masyarakat Barito Utara di masa lalu.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa kesadaran akan pentingnya pelestarian arsip mulai tumbuh, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.
Tak hanya arsip tertulis, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga tengah mendalami sejumlah arsip fotografi yang tak kalah bernilai.
Fakhri mengungkapkan bahwa saat ini dirinya sedang melakukan penelitian mendalam terkait foto-foto yang mendokumentasikan masa pemekaran antara Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Utara.
“Hal tersebut masih didalami berupa kapan foto tersebut diambil dan lain sebagainya melalui sang pemilik langsung. Maka kita perlu melakukan verifi kasi untuk menjaga keakuratan sejarah,”tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa arsip-arsip yang sudah ditemukan tidak hanya terbatas pada dokumen pemekaran wilayah. Koleksi yang berhasil dikumpulkan juga meliputi foto-foto masa lalu yang menggambarkan suasana awal terbentuknya Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara.
Arsip-arsip visual ini, menurut Fahri, memiliki kekuatan untuk membawa masyarakat menyelami atmosfer masa lampau, sehingga dapat membandingkan dan mengapresiasi pembangunan yang telah dicapai saat ini.
Bagi Fahri, pekerjaan ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk membuka wawasan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa arsip berfungsi sebagai jendela untuk melihat peristiwa masa lalu secara utuh.
“Motivasi untuk mendapatkan arsip-arsip bersejarah yang ada di Barito Utara merupakan tanggung jawab besar, yang mana hal tersebut bisa membuka jendela serta mata masyarakat perihal bagaimana hal-hal tersebut terjadi di masa lalu,” tegasnya.
Arsip-arsip yang sudah ditemukan, baik itu foto-foto masa lalu, foto-foto awal terbentuknya Muara Teweh, maupun arsip tertulis seperti naskah khutbah dan Alquran, menegaskan bahwa masa lalu memiliki banyak sekali hal yang bermakna dan tidak boleh dilupakan,” tambah Fahri.
Ia menekankan bahwa setiap lembar arsip adalah warisan yang mengandung identitas dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Barito Utara.
Fahri Fauzi juga memberikan pesan tegas mengenai urgensi pengelolaan arsip. Ia mengingatkan bahwa kearsipan bukanlah hal yang bisa disepelekan atau dipandang sebelah mata. Sebab kearsipan bukanlah hal yang bisa disepelekan tetapi merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga keberadaannya.(ren/nue/ko)

