PALANGKA RAYA, kaltengonline.com – Kegiatan reses perseorangan anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah di Kecamatan Pahandut menjadi ruang curhat bagi komunitas perempuan “Bunda Sehati” yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan tekanan sosial.
Pimpinan Bunda Sehati, Ibu Nur, menjelaskan bahwa komunitas ini beranggotakan perempuan-perempuan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga, mulai dari ibu tunggal, suami sakit, hingga yang tidak dinafkahi.
“Anggota kami banyak yang bekerja sebagai asisten rumah tangga hingga tukang tebas rumput. Kami bertahan tanpa dukungan dana, hanya mengandalkan kebersamaan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, komunitas tersebut sempat mendapat stigma negatif dari masyarakat hingga nyaris bubar. Namun, solidaritas antaranggota membuat kelompok ini tetap bertahan dan terus berkembang.
Bunda Sehati bahkan memiliki visi untuk memperluas jaringan ke 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, dengan tujuan memberdayakan lebih banyak perempuan dalam kondisi serupa.
“Kami sudah lama ingin bersilaturahmi dan berharap ada jembatan agar komunitas ini bisa berkembang,” tambahnya.
Selain persoalan ekonomi, sejumlah anggota juga menghadapi masalah pribadi yang kompleks. Salah satu anggota mengaku mengalami konflik rumah tangga, di mana suami tidak menceraikan namun juga tidak menafkahi.
Ia bahkan harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk mengurus gugatan cerai di pengadilan.
“Mohon arahan dan solusi, karena kondisi ini sangat memberatkan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, harapan untuk masa depan anak-anak juga menjadi perhatian. Para anggota mengusulkan adanya akses beasiswa pendidikan, termasuk kemudahan mengikuti tes agar bisa mendapatkan bantuan biaya kuliah.
Melalui reses ini, komunitas Bunda Sehati berharap adanya perhatian dan dukungan nyata dari pemerintah maupun wakil rakyat agar mereka dapat bangkit dan mandiri secara ekonomi.(Bud)
Komunitas Bunda Sehati Curhat ke Faridawaty, Bertahan di Tengah Stigma dan Keterbatasan

