Ia menjelaskan, apabila nilai ISPU meningkat ke kisaran 51–100, kualitas udara masuk kategori sedang. Pada kondisi itu udara masih dapat ditoleransi, tetapi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan mulai berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Sementara itu, jika ISPU mencapai 101–200, kualitas udara masuk kategori tidak sehat dan dapat memicu gangguan pernapasan bagi masyarakat secara umum. Kondisi menjadi lebih berbahaya ketika indeks berada pada kisaran 201–300 yang tergolong sangat tidak sehat.
“Apabila nilai ISPU melampaui angka 300, kualitas udara masuk kategori berbahaya dan dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan secara cepat,” jelasnya.
DLH menyebut asap hasil kebakaran hutan dan lahan menjadi faktor utama yang memengaruhi kualitas udara di Kotawaringin Barat. Selain itu, kondisi cuaca, arah angin, serta iklim juga turut menentukan penyebaran polusi udara.
Pemerintah daerah berharap seluruh elemen masyarakat ikut berperan dalam mencegah karhutla agar jumlah titik api tidak terus meningkat. Turunnya hujan juga diharapkan dapat membantu memadamkan kebakaran sekaligus memperbaiki kualitas udara.
Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap karhutla.
Warga diminta menggunakan masker serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara mulai menurun guna mengurangi risiko terkena ISPA dan gangguan kesehatan lainnya.(bob)







