PANGKALAN BUN, Kaltengonline.com — Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, memburuk di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan. Dalam pemantauan tiga hari terakhir, konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 600 mikrogram per meter kubik (µg/m³), dengan kondisi udara pada sejumlah waktu masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Forecaster Stamet Iskandar Kotawaringin Barat, Ibnu Ismantoro, mengatakan konsentrasi PM2.5 selama tiga hari terakhir berada di kisaran 200-600 µg/m³. Angka tersebut menunjukkan tingginya paparan partikulat halus di udara Kobar.
“Selama tiga hari terakhir, kualitas udara yang diukur melalui konsentrasi PM2.5 menunjukkan kondisi yang cenderung tidak sehat, bahkan pada beberapa waktu pengamatan telah mencapai kategori berbahaya,” kata Ibnu, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut Ibnu, kondisi tersebut berpotensi berlanjut seiring meningkatnya hotspot dan masih adanya aktivitas kebakaran di wilayah Kotawaringin Barat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada kualitas udara, tetapi juga terhadap jarak pandang.
Pada pagi hari, konsentrasi partikulat di dekat permukaan cenderung meningkat. Kondisi itu dapat membuat jarak pandang menurun ketika konsentrasi asap cukup tebal.
Saat siang, pemanasan matahari membuat udara di dekat permukaan bergerak naik. Pergerakan massa udara ini membantu menyebarkan partikel sehingga kondisi udara di permukaan terkadang terlihat sedikit membaik.
Kondisi kembali berubah menjelang sore hingga malam. Ketika intensitas matahari berkurang, udara di dekat permukaan menjadi lebih dingin dan padat. Atmosfer yang lebih stabil membuat partikel lebih mudah tertahan di dekat permukaan.
Karakteristik lahan gambut di sejumlah wilayah Kobar turut menjadi perhatian. Kebakaran pada lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan dan menghasilkan asap dalam jumlah besar ketika aktivitas bara meningkat.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Dengan kondisi udara yang dapat memburuk kembali pada sore hingga malam, masyarakat perlu memantau kualitas udara sebelum beraktivitas. BMKG mengimbau warga tetap waspada dan mengurangi paparan ketika konsentrasi partikulat meningkat. (ko)






