Pangkalan Bun, Kaltengonline.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mulai menekan aktivitas pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara disebut merosot sekitar 80 persen akibat kondisi tersebut.
Moncos dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK), yang terkait dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat, mengatakan penurunan kunjungan itu terjadi di tengah gangguan asap akibat karhutla. Ia menyampaikan keterangan tersebut pada Selasa, 13 Oktober 2026. Angka penurunan itu masih memerlukan data pembanding untuk memastikan skala dampaknya.
Gangguan tidak berhenti di kawasan hutan. Asap juga memengaruhi perjalanan wisatawan menuju Kotawaringin Barat, terutama ketika penerbangan mengalami pembatalan atau keterlambatan. Perubahan jadwal tersebut membuat rencana perjalanan yang telah disusun wisatawan harus disesuaikan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Kotawaringin Barat, Muhammad Alwan, mengatakan pembatalan kunjungan ke TNTP terjadi akibat pembatalan maupun keterlambatan penerbangan yang berkaitan langsung dengan karhutla. Kondisi transportasi itu menjadi salah satu kendala bagi wisatawan yang hendak mengunjungi destinasi tersebut.
Bagi wisatawan, keterlambatan penerbangan bukan sekadar persoalan waktu tiba. Perubahan jadwal dapat mengganggu rangkaian perjalanan yang telah direncanakan, termasuk agenda menuju kawasan taman nasional. Dalam situasi seperti ini, wisatawan berpotensi mengubah jadwal kunjungan atau membatalkan perjalanan.
Keluhan juga datang dari wisatawan mancanegara yang berada di Taman Nasional Tanjung Puting. Mereka menyampaikan keberatan terhadap kondisi asap yang mengganggu kenyamanan selama berwisata. Namun, belum ada keterangan mengenai jumlah wisatawan yang mengeluhkan kondisi tersebut maupun dampaknya terhadap lama kunjungan mereka.
Tanjung Puting merupakan salah satu destinasi wisata alam andalan Kalimantan Tengah. Kawasan ini dikenal karena ekosistem hutan tropis dan keberadaan orangutan. Gangguan terhadap perjalanan menuju kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kegiatan wisata yang melibatkan pemandu, penyedia perjalanan, serta pelaku usaha pendukung lainnya.
Penurunan kunjungan yang disebut mencapai 80 persen menjadi sinyal bagi sektor pariwisata Kotawaringin Barat. Meski demikian, besaran penurunan itu belum dapat menggambarkan keseluruhan dampak ekonomi tanpa informasi mengenai periode perbandingan, jumlah wisatawan sebelum karhutla, serta data pembatalan perjalanan.
Karhutla juga menempatkan persoalan lingkungan dan keberlangsungan pariwisata dalam satu rangkaian masalah. Selain penanganan kebakaran, kondisi asap perlu menjadi perhatian karena dapat mengganggu mobilitas masyarakat dan wisatawan. Informasi mengenai kondisi lapangan serta operasional penerbangan diperlukan agar calon pengunjung dapat mempertimbangkan perjalanan secara tepat.
Dampak karhutla terhadap wisata Tanjung Puting memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat merembet ke sektor ekonomi daerah. Pemulihan kunjungan wisata akan bergantung pada perkembangan penanganan karhutla, kondisi asap, dan kelancaran akses transportasi. Sejauh ini, besaran kerugian sektor pariwisata maupun waktu pemulihan kunjungan belum diketahui. (bob/ko)






