Wabup Kotim Menangis, Tiga Relawan Gugur dan Karhutla Meluas

oleh
oleh
Wakil Bupati Kotim Irawati, saat diwawancarai awak media belum lama ini.
Wakil Bupati Kotim Irawati, saat diwawancarai awak media belum lama ini.

SAMPIT, Kaltengonline.com – Wakil Bupati (Wabup) Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, tak kuasa menahan air mata saat meluapkan kekecewaan dan kondisi terkini bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya kepada Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Fahrizal Fitri.

Irawati sangat menyayangkan pembatalan agenda peninjauan lokasi karhutla di Sampit oleh Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni yang sebelumnya dijadwalkan pada Rabu (14/10/2026).

Rombongan Menhut diketahui langsung bertolak menuju Pangkalan Bun tanpa sempat bertemu maupun berdiskusi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim.

Melalui sambungan telepon, Irawati menyampaikan keprihatinannya terhadap nasib masyarakat dan para relawan di Bumi Habaring Hurung yang telah berjuang menanggulangi karhutla selama tiga bulan terakhir.

“Gimana, Pak, masyarakat saya? Kasihan, tidak digubris. Kami Forkopimda tidak apa-apa tidak ditemui, Pak, tapi relawan kami ditemui lah. Kami juga manusia yang perlu diperhatikan. Tiga orang relawan kami meninggal dunia, Pak,” ujar Irawati dengan suara lirih, Rabu (14/10/2026).

Irawati menuturkan bahwa Forkopimda bersama jajaran relawan dan petugas pemadam telah menunggu di pinggir jalan serta menyiapkan tempat pertemuan.

Namun, rombongan menteri justru melewati kesempatan tersebut. Padahal, petugas di lapangan sudah sangat kelelahan dan kewalahan menghadapi sebaran api yang kian meluas.

Ia memohon agar Kemenhut segera mengucurkan bantuan tambahan untuk penanganan di Kotim karena keterbatasan sarana dan personel di daerah.

Merespons aduan tersebut, Staf Ahli Menteri Kemenhut Fahrizal Fitri mengaku tidak menerima informasi terkait rencana penyambutan oleh Forkopimda Kotim maupun insiden gugurnya tiga relawan pemadam.

Pihaknya menyampaikan rasa prihatin mendalam atas kondisi tersebut.

Fahrizal menjelaskan, perubahan jadwal terjadi karena Menhut harus menghadiri rapat koordinasi di Pangkalan Bun dan segera kembali ke Palangka Raya untuk menyambut agenda kunjungan Menteri Koordinator (Menko) pada Jumat (16/10/2026).

Kendati demikian, ia berjanji Menhut akan menyempatkan diri singgah di Kota Sampit dalam perjalanan darat kembali ke ibu kota provinsi. (kpg/ko)