MUARA TEWEH , Kaltengonline.com – Pemerintah Kabupaten Barito Utara terus menunjukkan komitmen kuat dalam menumbuhkan budaya literasi melalui penyelenggaraan Lomba Membaca Nyaring bagi guru TK/RA dan SD/MI se-kabupaten. Kegiatan yang digelar di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah, Drs. Muhlis Selasa (4/11).
Acara tersebut turut dihadiri oleh Bunda Literasi Barito Utara, Hj Maya Savitri Shalahuddin, serta pimpinan organisasi wanita seperti GOW dan Dharma Wanita Persatuan, juga Sekretaris Dinas Pendidikan. Sementara itu, puluhan guru dari berbagai wilayah tampak antusias mengikuti ajang bergengsi ini dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Dalam sambutannya, Sekda Drs. Muhlis menyampaikan apresiasi atas inisiatif Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dalam menggelar kegiatan yang sarat makna ini. Ia menyebut membaca nyaring bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan sebuah seni dalam menyampaikan pesan dan menumbuhkan kecintaan terhadap buku sejak dini.
“Membaca nyaring adalah seni menyampaikan makna dengan suara. Dari intonasi dan ekspresi guru, anak-anak belajar mencintai buku dan menemukan dunia pengetahuan yang menyenangkan,” ujar Drs. Muhlis.
Ia juga menegaskan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak dalam membangun generasi literat di Barito Utara.
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirator. Dari tangan dan suara merekalah tumbuh generasi yang cerdas, berkarakter, dan mencintai ilmu pengetahuan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia H. Fakhri Fauzi, S.Ag., M.H. menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk memperkuat semangat bersama dalam Gerakan Literasi Nasional.
“Esensi lomba ini adalah membangun budaya baca di semua lini pendidikan. Kami ingin literasi menjadi bagian dari kehidupan, dimulai dari ruang kelas hingga ke masyarakat luas,” ungkap Fakhri Fauzi.
Ia menambahkan bahwa metode membaca nyaring memiliki daya tarik tersendiri bagi siswa.
“Melalui membaca nyaring, guru dapat memberi contoh langsung pelafalan, intonasi, dan ekspresi yang menghidupkan cerita. Dari suara seorang guru, lahirlah imajinasi dan rasa ingin tahu anak-anak untuk terus belajar,” jelasnya. (ren/ko)







