PALANGKA RAYA, kaltengonline.com – Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, mulai dari penyediaan pangan, penyerapan tenaga kerja, hingga penguatan ketahanan ekonomi dan lingkungan. Namun, tantangan seperti degradasi lahan, alih fungsi sawah produktif, serta keterbatasan lahan potensial masih menjadi kendala serius dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Seiring terus menyusutnya lahan pertanian akibat konversi ke sektor nonpertanian, pemerintah mendorong program perluasan sawah atau cetak sawah sebagai bagian dari strategi ekstensifikasi lahan. Program ini bertujuan menambah luas baku sawah baru untuk menutup kehilangan lahan produktif sekaligus memperkuat swasembada pangan nasional. Secara nasional, target cetak sawah hingga 2025 mencapai 225 ribu hektare.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, program cetak sawah menjadi salah satu prioritas nasional. Target awal seluas 85 ribu hektare kemudian mengalami penyesuaian menjadi sekitar 53.631 hektare. Program ini dilaksanakan melalui tahapan terencana, mulai dari survei dan desain teknis, keterlibatan petani lokal, sinergi lintas kementerian dan pemerintah daerah, hingga penyediaan infrastruktur pendukung pertanian.
Salah satu tantangan utama pengembangan sawah di Kalimantan Tengah adalah karakteristik lahan rawa dengan daya dukung tanah rendah dan kandungan organik tinggi. Kondisi ini menuntut penggunaan teknologi dan mekanisasi pertanian yang mampu beradaptasi dengan tanah lunak agar pengolahan lahan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Palangka Raya (UPR) melalui Fakultas Pertanian melaksanakan kegiatan riset bersama sebagai implementasi nota kesepahaman (MoU) antara UPR, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPH) Provinsi Kalimantan Tengah, serta PT Komatsu Marketing and Support Indonesia. Riset ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penggunaan alat dan mesin pertanian modern pada lahan rawa untuk mendukung program food estate padi sawah.
Pada Senin (15/12/2025), tim riset Fakultas Pertanian UPR melaksanakan tanam perdana benih padi varietas Inpari 32 HDB di lahan CSR seluas 6 hektare di Blok A5, Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas. Dari total luasan tersebut, 3 hektare diolah menggunakan mesin pertanian modern Komatsu Farming Bulldozer D21PL dan D32PLL, sementara 3 hektare lainnya menggunakan hand tractor.
Metode tanam yang diterapkan juga bervariasi, yakni Tanam Benih Langsung (TABELA) seluas 4 hektare, tebar benih manual 1 hektare, dan tanam pindah (TAPIN) 1 hektare. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan data awal terkait kesesuaian lahan, efektivitas mekanisasi, serta standar pengolahan tanah yang optimal untuk pengembangan sawah skala luas di Kalimantan Tengah.
Kegiatan tanam perdana ini dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik UPR, perwakilan DTPH Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, pemerintah kecamatan dan desa, PT Komatsu Marketing and Support Indonesia, serta kelompok tani setempat.
Melalui riset kolaboratif ini, UPR menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat inovasi dan penghasil rekomendasi berbasis riset untuk mendukung pembangunan daerah. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi UPR dalam penguatan ketahanan pangan, pengelolaan lahan rawa berkelanjutan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Momentum kegiatan ini bertepatan dengan Dies Natalis Universitas Palangka Raya ke-62. Sejak berdiri pada 10 November 1963, UPR terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, program ketahanan pangan nasional, serta penguatan peran Kalimantan Tengah dalam mendukung Ibu Kota Nusantara.(bud)







