Jembatan Bailey Buka Akses Wilayah Terisolasi Barito Utara

oleh
oleh
PENINJAUAN: Kadis PU Barito Utara M. Iman Topik bersama Kabid Bina Marga Subiyantoro mengecek salah satu lokasi pemasangan jembatan bailey.
PENINJAUAN: Kadis PU Barito Utara M. Iman Topik bersama Kabid Bina Marga Subiyantoro mengecek salah satu lokasi pemasangan jembatan bailey.

MUARA TEWEH, Kaltengonline – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara meluncurkan terobosan strategis untuk memutus keterisolasian sejumlah wilayah melalui pembangunan jembatan bailey sebagai solusi prioritas. Langkah ini diharapkan menjadi katalis peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pemerataan pembangunan hingga tingkat kecamatan.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen Bupati dan Wakil Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin dan Felix Sonadie, untuk mendekatkan layanan publik sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat pedesaan.

“Pemanfaatan jembatan Bailey merupakan inovasi strategis untuk menjawab kebutuhan mendesak akan infrastruktur penghubung. Penanganannya akan kami laksanakan secara bertahap dan tepat sasaran,” ujar Bupati Shalahuddin.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Barito Utara M. Iman Topik melalui Kepala Bidang Bina Marga Subiyantoro memaparkan keunggulan ekonomis jembatan modular tersebut. Dari sisi teknis dan anggaran, solusi ini dinilai sangat efektif.

“Efisiensi anggaran sangat signifikan. Untuk bentang 30 meter, jembatan permanen biasa dapat menghabiskan dana Rp9 hingga Rp12 miliar. Sementara dengan spesifi kasi serupa, jembatan Bailey hanya memerlukan sekitar Rp2 miliar, dengan biaya pelaksanaan berkisar Rp300 juta,” jelas Subiyantoro, Selasa (20/1).

Meski ekonomis, kapasitas dan fl eksibilitas jembatan ini tetap memadai. Jembatan Bailey mampu menahan beban 10 hingga 20 ton, sehingga cukup untuk lalu lintas kendaraan dan distribusi logistik masyarakat. Keunggulan lainnya terletak pada sifatnya yang modular.

“Tipe Double SR 30 yang kami sediakan sangat adaptif. Komponen dari satu unit bisa dibagi untuk membangun dua atau tiga jembatan di lokasi berbeda, menyesuaikan lebar sungai atau jurang yang harus diseberangi,” tambahnya.

Dinas PUPR telah menyiapkan sepuluh set jembatan Bailey dengan berbagai spesifi kasi, terdiri atas lima set Double SR 30 meter, empat set Single SR 30 meter, dan satu set khusus kendaraan roda dua dengan bentang 50 meter. Total anggaran yang dialokasikan untuk program ini mencapai Rp20,7 miliar.

“Jembatan khusus roda dua akan difungsikan di permukiman dengan akses terbatas yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan roda empat,” imbuh Subiyantoro.

Setiap kecamatan direncanakan mendapat minimal dua titik pembangunan jembatan Bailey. Dampak yang diharapkan meliputi terbukanya akses wilayah terpencil, lancarnya distribusi barang dan jasa, hingga tumbuhnya perekonomian lokal.

“Jembatan-jembatan ini menjadi pemutus isolasi. Dengan akses yang terbuka, masyarakat dapat lebih mudah menjangkau pusat layanan dan memasarkan hasil pertanian. Pada akhirnya, tujuan pimpinan daerah untuk mensejahterakan rakyat akan semakin cepat terwujud,” pungkasnya. (ren/uni/ko)