Batara Memilih Ikuti Sidang Isbat Pusat

oleh
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kemenag Barito Utara, Almubasir
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kemenag Barito Utara, Almubasir

MUARA TEWEH, Kaltengonline.com – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Barito Utara memastikan tidak akan melaksanakan rukyat hilal (pengamatan bulan sabit) secara mandiri untuk menetapkan awal Ramadan 1445 Hijriah. Penetapan akan mengikuti hasil sidang isbat (penetapan) pemerintah pusat yang rencananya digelar pada 17 Februari mendatang.

Keputusan ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kemenag Barito Utara, Almubasir, di ruang kerjanya, Jumat (30/1). Menurutnya, kendala geografis menjadi penyebab utama.

“Untuk Rukhyatul Hilal sendiri, melihat tahun-tahun sebelumnya yang mungkin kurang terlihat, dilaksanakan hanya di Kalimantan Tengah khususnya yang bisa melihat, seperti Palangkaraya karena ada tempat tinggi, atau di daerah pesisir seperti Sampit dan Sukamara. Kalau kita di sini, posisi sulit dan sering kali terkendala cuaca,” jelas Almubasir.

Ia menambahkan, pihaknya akan tetap memantau dan mengikuti keputusan akhir dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.

“Kita tetap memantau, mengikuti saja dari pusat. Memang itu yang menentukan,” ucapnya.

Meski tidak melakukan rukyat, Kemenag Barito Utara tengah mempersiapkan serangkaian edaran dan himbauan menyambut bulan suci. Persiapan tersebut mencakup peningkatan kualitas ibadah bagi umat Islam setempat.

“Untuk persiapan kami juga nanti membuat edaran, baik untuk meningkatkan kualitas ibadah maupun terkait jadwal imsakiyah. Insyaallah dalam beberapa minggu ke depan setelah bulan Sya’ban, sebelum Ramadan kita edarkan,” tutur Almubasir.

Edaran tersebut juga akan berisi imbauan spesifik kepada masyarakat. “Termasuk untuk keramaian para jamaah, kami himbau untuk tidak membunyikan petasan,” sambungnya.

Selain edaran, diseminasi informasi akan dilakukan melalui jadwal imsakiyah yang disebarkan ke masjid, musala, dan media. Almubasir menekankan pentingnya keseragaman waktu.

“Kami imbau pengurus masjid dan musala agar menyesuaikan dengan patokan dari RRI atau TVRI, supaya sama seluruhnya, mengantisipasi selisih waktu,” paparnya. (ren/ans/ko)