Taman Miniatur Budaya Sampit Terbengkalai

oleh
Ketua DPRD Kotim, Rimbun bersama pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, saat mengunjungi Taman Miniatur Budaya Sampit, belum lama ini.
Ketua DPRD Kotim, Rimbun bersama pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, saat mengunjungi Taman Miniatur Budaya Sampit, belum lama ini.

Dewan Dorong Rehabilitasi Total Lewat CSR

SAMPIT, Kaltengonline.com – Kondisi Taman Miniatur Budaya Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian memprihatinkan. Padahal kawasan ini menyimpan jejak sejarah, adat istiadat, serta kekayaan budaya berbagai suku yang hidup berdampingan di Kotim. Kerusakan sejumlah bangunan membuat ikon keberagaman itu tampak terabaikan dan kehilangan daya tariknya.

Sorotan keras datang dari Ketua DPRD Kotim, Rimbun. Ia menilai minimnya perhatian terhadap taman miniatur budaya mencederai citra keharmonisan daerah sekaligus menggerus makna kearifan lokal yang seharusnya dijaga bersama.

Menurut Rimbun, miniatur rumah adat yang berdiri di kawasan tersebut bukan sekadar ornamen wisata, melainkan representasi identitas budaya masyarakat. Namun faktanya, sejumlah bangunan terlihat rusak berat, lapuk dimakan usia, bahkan ada yang dibiarkan terbengkalai tanpa perawatan.

“Melihat kondisi taman miniatur itu sungguh miris. Tidak ada perhatian yang memadai, padahal ini menyangkut harga diri Dayak dan keharmonisan semua suku di Kotim,” tegasnya.

Ia menyebutkan, bangunan Betang serta miniatur rumah adat Banjar, Bali, hingga Madura telah mengalami kerusakan serius, bahkan sebagian nyaris hancur. Rimbun menilai rehabilitasi tidak bisa lagi ditunda, mengingat kawasan tersebut memiliki nilai historis dan simbolik penting bagi rekonsiliasi sosial pascatragedi 2001.

Baca Juga:  Ramadan Jangan Jadi Ajang Permainan Harga

“Ini wajah keharmonisan Kotim pascatragedi 2001. Kita sering menggaungkan kearifan lokal, tapi aset budayanya justru diabaikan. Ini yang harus kita jaga,” ujar Rimbun.

Dirinya mengatakan DPRD Kotim berencana mengusulkan kepada Bupati Kotim agar segera memasukkan program rehabilitasi taman miniatur dalam agenda prioritas, mulai dari rehab ringan hingga rehabilitasi total pada bangunan yang rusak berat.

Namun, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan utama. Karena itu, Rimbun mendorong kolaborasi lintas pihak dengan mengoptimalkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kotim.

“Kalau hanya mengandalkan APBD tentu terbatas. CSR perusahaan bisa diarahkan untuk membantu penyelesaian rehabilitasi taman miniatur tahun ini,” kata Rimbun.

Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah memanggil perusahaan kayu dan perusahaan perkebunan sawit untuk berkolaborasi dalam bentuk bantuan material maupun dukungan teknis.

“Perusahaan kayu bisa membantu material, perusahaan sawit bisa menyesuaikan dukungan teknis. Intinya, tahun ini rehabilitasi harus mulai berjalan,” tandasnya. (bah/ans/ko)