SAMPIT- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menghimbau masyarakat didaerah ini untuk selalu waspada terhadap penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) yang saat ini melanda, karena menurut informasi sudah 50 lebih warga terpapar penyakit yang di sebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kotim Hj.Megawati mengatakan bahwa selain bersikap waspada diharapkan semua pihak dapat bersama-sama melakukan bentuk upaya pencegahan di lapangan, karena setiap tahunnya kasus DBD terjadi di Kabupaten Kotim
“Kondisi saat ini juga dapat kita jadikan sebagai kesiapsiagaan oleh semua pihak baik itu pemerintah maupun masyarakat, kami juga berharap agar instansi terkait juga harus pro aktif bahkan kapan perlu turun ke lapangan dalam upaya pencegahan DBD dan jangan sampai baru bergerak ketika ada laporan masyarakat yang terkena DBD,” kata megawati, Selasa (6/6).
Dirinya juga mengatakan selain itu ketersediaan obat-obatan juga menjadi penting dalam rangka kesiapsiagaan pencegahan DBD serta mempersiapkan sarana dan prasarana fasilitas penunjang lainnya. Serta deteksi dini juga wajib dijalankan agar mencegah kondisi yang wat diinginkan, selain itu juga harus diterapkan bagi penyakit lainnya apapun musimnya, endemik serta pencegahan juga pengobatan sudah harus diketahui.
“Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang bahaya DBD dan juga diharapkan kepada masyarakat agar selalu menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing,” ucap Megawati.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) juga mengatakan lokasi yang cukup rawan terdampak DBD karena sanitasi yang kurang baik, misalnya tumpukan sampah yang menyumbat parit sangat berpotensi sebagai sarang nyamuk, maka dari itu kepedulian masyarakat juga diharapakan, untuk mencegah munculnya demam berdarah di Kabupaten Kotim.
“Peran masyarakat juga penting terutama untuk melakukan langkah pencegahan agar tidak terkena penyakit DBD seperti membersihkan lingkungan masing-masing dan membuang sampah pada tempatnya, kemudian mengubur kaleng-kaleng bekas, sehingga tidak menampung air yang akan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti,” tutupnya (bah)







