Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno pernah menyebut ‘jasmerah’ atau jangan melupakan sejarah. Kata yang terdengar sederhana, tetapi tidak mudah dilupakan. Kehidupan ini sambung-menyambung. Sudah seharusnya generasi sekarang ini dan mendatang melestarikan peninggalan leluhur.
MUTOHAROH-ILHAM ROMADHONA, Palangka Raya
DI tengah cuaca terik, dua orang mahasiswa memasuki pintu Museum Balanga. Sejumlah gambar dan tulisan terkait tradisi leluhur adat Dayak yang terpampang di dinding museum, memikat mata Rafidah Kirana Nuswantari dan Wulan Sari.
Kedatangan keduanya siang itu disambut hangat Reno Saputra, salah satu staf yang bertugas. Sang staf pun langsung memandu dan membawa kedua mahasiswa semester VI itu berkeliling museum yang terletak di Jalan Tjilik Riwut Km 2, Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya.
Menurut Rafidah, berkunjung ke museum adalah langkah menolak melupakan peninggalan leluhur suku Dayak. Gambar- gambar atau benda yang menyangkut ritual kehidupan dan kematian suku Dayak Ngaju ini merupakan identitas dan juga merupakan warisan yang harus dipertahankan.
“Menurutku, bagi sebagian anak muda seperti kita ini, ritual Dayak Ngaju merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya, ini dianggap sebagai cara yang unik untuk menghormati nenek moyang dan menjaga tradisi, aku mengagumi keindahan tarian, musik, dan kostum yang dipakai dalam ritual Dayak, serta nilai-nilai seperti persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam yang mereka terapkan,” bebernya.
Dengan pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini, peran anak muda sangat penting dalam melestarikan adat dan budaya. Tentunya dengan memanfaatkan teknologi untuk melakukan penelitian tentang kebudayaan Dayak, mulai dari ritual, adat istiadat, bahasa, seni, hingga tradisi lainnya. Informasi bisa didapatkan dari masyarakat yang masih menerapkan adat dan ritual. Hasil penelitian didokumentasikan dalam bentuk tulisan, foto, video, ataupun dalam bentuk digital seperti blog atau situs web yang akan disebarluaskan melalui internet, sehingga dapat menarik minat masyarakat luas.
Selain dengan penelitian yang didokumentasikan, pelestarian budaya juga bisa dengan kolaborasi, misalnya organisasi membuat suatu pagelaran seni yang bekerja sama dengan orang lokal, hal ini tentu bisa sebagai ajang promosi dari kebudayaan itu sendiri. Dan masih banyak lagi cara untuk pelestarian budaya ini, seperti dengan melalui pendidikan atau pelatihan.
Di waktu yang sama, mahasiswa asal Muara Teweh itu juga menjelaskan situasi saat berkunjung. Menurutnya orang yang baru pertama kali bertemu mungkin akan merasakan kagum akan barang-barang yang dipajang, seperti baju, alat, tulang belulang, hingga urutan ritual kehidupan suku Dayak.
“Perasaan seakan terbayang sejarah saat ritual berlangsung, makin masuk ke bagian dalam, rasa ingin tahun makin besar, seiring kagum dengan sejarahnya, serta perasaan hangat dan tenang,” ucapnya.
Sementara itu, Reno Saputra, mahasiswa semester VI IAIN Palangka Raya juga berbagi pengalamannya kepada Kalteng Pos ketika mengunjungi Museum Balanga, beberapa waktu silam.
Menurutnya, saat berkunjung ke museum untuk pertama kalinya, ia merasa senang dan kagum, sekaligus penasaran.
“Waktu pertama kali datang ke museum, banyak pertanyaan yang muncul di pikiran diri. Semisal, kenapa orang Dayak kalau meninggal ada upacara tiwahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu mencuat ketika pertama kali membaca penjelasan ritualnya,” ujar Reno.
Menurutnya, menghormati tradisi, adat, dan ritual yang ada di Kalteng merupakan cara untuk mempertahankan dan melestarikannya. Berkunjung ke museum juga merupakan salah satu opsi bagi generasi masa kini menolak melupakan bendabenda peninggalan, ritual adat, dan tradisi nenek moyang.
“Kami berusaha terus mengingat, menghargai, menghormati apa yang menjadi tradisi dari leluhur suku Dayak di Kalteng,” katanya. Menurut Kepala Seksi Penyajian Data Tata Pameran dan Pelayanan Museum Balanga, Richard Jimmy, tradisitradisi leluhur masyarakat adat Dayak itu tak akan melebur di era yang serbacanggih ini.
“Kalau untuk eksistensi tradisi di zaman sekarang, saya kira masih eksis ya, masih banyak ritual yang dilakukan, seperti ritual kematian tiwah. Kalau untuk ritual kehamilan, sepertinya lebih banyak dilakukan di desa-desa,” jelasnya.
Agar tetap eksis dan lestari, pihak Museum Balanga punya caranya sendiri. Mulai dengan rutin mengundang pelajar untuk berkunjung ke museum.
Untuk sekolah-sekolah di luar Palangka Raya, pihak museum melakukan jemput bola.
“Seperti di Seruyan, Sukamara, Gunung Mas. Kami yang akan datang ke sana untuk memperkenalkan kepada siswa-siswi. Tidak lupa, kami juga membawa benda-benda koleksi beserta penjelasannya,” katanya.
Richard menuturkan, tradisi adat yang dipaparkan di Museum Balanga adalah Dayak Ngaju. Hal itu dikarenakan suku Dayak Ngaju paling mendominasi dan paling umum di masyarakat. “Selain karena familiar di kalangan masyarakat, adat Dayak di tiap daerah juga berbeda-beda. Kalau dipaparkan semua, tempat ini tidak memungkinkan untuk menampung. Jadi kami hanya memaparkan adat Dayak Ngaju. Kemungkinan di kemudian hari ada penambahan penjelasan untuk adat Dayak lain,” tutupnya. (ko)







