Menjelajahi Riam Jerawi, Destinasi Wisata yang Berpotensi Jadi PLTA (4/habis)

oleh
oleh
MENGURAS TENAGA: Bupati Katingan Sakariyas dan rombongan baru sampai di lokasi parkir setelah menaiki bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter dari bawah Riam Jerawi, Kamis (15/6).

Riam Jerawi ini ada sejarahnya. Dari cerita versi Katingan, daerah itu awalnya hanya sebuah riam biasa. Riam ini terletak di sungai Baraoi yang bermuara di sungai Samba. Panjangnya kurang lebih dua kilometer dengan lebar perkiraan 10 hingga 20 meter.

JERI SP, Kasongan

SINGKAT cerita ada asal usul Riam Jerawi. Dalam bahasa Dohoi disebut Jarawi. Di sini memiliki cerita tentang hewan jenis Bere dalam bahasa Kahayan.

Labi-labi atau bidawang bahasa Indonesia.

Ceritanya ada seorang laki-laki bernama Tambun.

Dia seorang pria yang ganteng, gagah perkasa dan memiliki kesaktian. Ketika itu dia mau mencari hati hewan untuk istrinya bernama Bungai yang sedang mengidam ingin makan hati hewan. Tambun pun berjalan masuk hutan, melewati Bukit Raya, Bukit Bangapan, Bukit Mohod, Datah Hotap, dan Sepan Kasuhui.

Selama perjalanan hingga sore, dia tidak menemukan satu pun hewan. Setelah itu, Tambun bertemu sungai besar dengan kondisi air mengalir. Lalu dia membuat rakit dengan menggunakan batang pohon. Begitu selesai, dia naik ke atas rakit menyusuri sungai Baraoi. Ketika itulah Tambun ketemu riam yang bernama riam Pajajan Hicop (Pajajan hicop bahasa dohoi ud danum, jalan kecil atau sempit).

Ketika melintas ditempat itu, rakit yang digunakan rusak dan hancur. Sementara hari sudah mulai gelap.

Lalu Tambun berhenti di muara sungai Ahoi dan beristirahat. Keesokan harinya Tambun kembali melanjutkan perjalanan ke sungai Baraoi.

Ketika di tengah perjalanan itulah, tambun terjatuh ke riam. Dia berupaya menyelamatkan diri dan meminta pertolongan dengan siapa saja. Termasuk dengan hewan di sekitar tempat itu. Di situlah tibatiba muncul labi-labi atau bidawang besar dari dalam air. Tubuh Tambun pun tersangkut di tubuh bidawang, dan berhasil selamat.

Karena telah diselamatkan.

Tambun pun bersumpah tidak akan membunuh atau memakan labi-labi atau bidawang sampai anak cucunya kelak.

Namun, tidak lama kemudian, dia teringat jika istrinya Bungai sedang mengidam hati hewan.

Tambun pun bingung mau cari ke mana dan hewan apa. Karena tidak ada pilihan, sehingga Tambun melanggar sumpahnya.

Bidawang yang telah menyelamatkan nyawanya itu langsung dibunuh, dan diambil hatinya. Sejak itulah tiba-tiba cuaca berubah.

Datang angin, disertai petir.

Hingga menyebabkan semuanya berubah menjadi batu, termasuk Bidawang.

Sedangkan Tambun, hilang secara gaib. Sejak saat itulah daerah itu dinamakan Riam Jerawi.

Baca Juga:  Ketika Mahasiswa UPR Disurvei Kreteria Sosok Calon Rektor, Berikut Hasilnya

Selanjutnya sambil menyusuri batu di pinggir sungai, saya mendekati Bupati Katingan Sakariyas duduk santai di atas batu pinggir riam. Suara gemuruh air mengalir tiada henti.

Membuat kami harus bicara dengan nada tinggi. Dilokasi, peserta ekspedisi disibukkan dengan aktivitasnya masingmasing.

Ada yang sekedar duduk, mandi, hingga mengambil gambar dengan kameranya masing-masing.

“Ini luar biasa. Baru pertama saya ke sini. Alamnya benar-benar alami. Kita turun ke sini dari atas cuma 30 menit. Jika naik nanti, mungkin sekitar satu jam,” ujar Bupati Katingan Sakariyas kepada penulis.

Jika ingin ke Riam Jerawi, lanjutnya, hanya memerlukan waktu sekitar tujuh jam dari Kasongan. Bahkan bisa bolak balik dari Kasongan dalam waktu satu hari. “Tapi kalau PP, rugi.

Tidak puas kita menikmati alamnya. Makanya harus nginap. Setelah kegiatan ini, saya minta agar di atas (Tempat parkiran mobil) dibuatkan gazebo tempat istirahat. Bahkan gazebo bisa juga tempat nginap pengunjung,” tuturnya.

Lalu jika melihat aliran air di Riam Jerawi, menurut Sakariyas, sangat cocok dijadikan tempat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Didesain dan dibuatkan bendungannya, maka energi yang dihasilkan mampu untuk menjadi tenaga listrik untuk Kabupaten Katingan bahkan daerah lainnya di Kalimantan Tengah.

“Kita akan promosikan ini.

Di samping sebagai tempat objek wisata. Mudahan ada investor yang tertarik,” kata bupati.

Kemudian sekitar satu jam menikmati alam di Riam Jerawi. Satu persatu rombongan, mulai meninggalkan lokasi. Kami kembali naik melewati bukit dan jalur sebelumnya. Selama proses pendakian, cukup menguras tenaga. Beberapa kali saya harus berhenti di jalan pendakian. Begitu juga dengan peserta lain.

Setelah istirahat sejenak, perjalanan lanjut lagi.

Hingga akhirnya sampai di lokasi parkir.

Setelah berhasil sampai ke Riam Jerawi dan kembali atas dengan selamat.

Rasanya sangat senang. Di lokasi parkir kami kembali istirahat sambil sambil mencengkrama antar satu dengan yang lain. Sambil menunggu kedatangan rombongan lain tiba ke atas, aktivitas peserta ada yang menyibukkan diri memasak super mie, dan lainnya. Lalu sekitar kurang lebih sejam istirahat berada di lokasi parkir.

Rombongan pun meninggalkan lokasi. Tujuan kali ini ke camp milik perusahaan PT Dwima Grup.

Jaraknya tidak jauh dari lokasi tempat berkemah, ya sekitar 2 kilometer. Di situ kami makan siang. Setelah selesai makan, rombongan berangkat lagi kembali ke Kasongan. (ko)