Kalteng patut berbangga. Siswa-siswi SMAN 2 Palangka Raya mencetak prestasi lewat karya ilmiah dalam ajang perlombaan internasional di Korea Selatan. Kezia Kasinta Tumon dan Ayudya Aurora Putri membawa pulang medali emas dari perhelatan tersebut setelah mempresentasikan karya ilmiah yang mengulas pemanfaatan bawang dayak menjadi mi instan.
AKHMAD DHANI, Palangka Raya
HELITA bangga luar biasa kala anak-anak didiknya berhasil menorehkan prestasi pada ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Korea Selatan.
Empat dari lima tim yang dikirim, sukses mendulang medali emas melalui karya ilmiah mereka di bidang kesehatan dan lingkungan.
Dua tim untuk tiap bidang.
Helita merupakn guru yang khusus membimbing tim bidang kesehatan. Salah satu tim yang dibimbingnya yakni tim bidang kesehatan yang beranggotakan Kezia Kasinta Tumon dan Ayudya Aurora Putri. Tim ini berhasil mendapatkan medali emas setelah mempresentasikan hasil karya berupa inovasi mi berbaham baku bawang dayak yang kaya akan gizi.
“Inovasi itu merupakan tantangan dari Pak Gubernur Kalteng yang begitu memercayai kami, karena beberapa waktu lalu ada kesempatan dan menang,” ujar wanita dengan gelar magister pendidikan biologi ini kepada Kalteng Pos, Senin (21/8).
Salah satu kriteria karya ilmiah yang diperlombakan dalam event internasional tersebut adalah inovasi yang mengangkat kearifan lokal. Karena itu, salah satu tim mempresentasikan inovasi mi yang terbuat dari bahan pangan lokal.
“Kami kepikiran dan terinspirasi dari mi-mi yang ada sekarang yang bahannya alami.
Setelah kami browsing di intenet, diketahui bahwa belum ada mi yang berbahan dasar bawang dayak. Karena itu kami tertantang untuk menciptakan mi sehat dari bawang dayak,” jelas wanita yang mengajar di SMAN 2 Palangka Raya sejak 2005 itu.
Sebetulnya, lanjut Helita, ada campuran lain dalam produk mi karya anak-anak asuhnya itu. Yakni daun kelor. Namun bawang dayak yang paling banyak dalam komposisinya.
Rencana pembuatan mi bawang dayak dimulai sejak November 2022 lalu. Saat itu Helita berdiskusi dengan para siswa-siswi yang akan mengikuti perlombaan, perihal karya ilmiah seperti apa yang akan dipresentasikan.
“Kami sama-sama berdiskusi, dari November 2022 hingga Januari 2023 kami sudah mulai mencoba dan mencoba berbagai inovasi, kami juga melakukan uji kandungan gizi ke lab, ternyata sangat bagus,” jelasnya.
Herlita menyebut, dalam bawang dayak terkandung antioksidan tinggi dan kaya akan gizi. “Kurang lebih ada waktu enam bulan sehingga kami bisa berhasil mendaftar mengikuti project yang di Korea Selatan itu,” tuturnya.
Bawang dayak dikenal sebagai tumbuhan yang kaya akan khasiat. Bawang dayak sangat baik dikonsumsi untuk menurunkan diabetes, asam urat, memiliki antioksidan yang tinggi, sehingga dapat menghambat radikal bebas yang ada dalam tubuh.
“Adapun keunggulan dari mi bawang dayak adalah kandungan antioksidannya. Kemudian ada senyawa sekunder yang manfaatnya tidak diragukan lagi,” tutur Herlita.
Wanita yang sudah menjadi guru sejak 1999 itu menyebut, ide pembuatan mi berbahan dasar bawang dayak didapatkan dari hasil diskusi dua arah antara pembimbing dan siswasiswi.
Dirinya selaku pembimbing memberikan masukan, lalu siswa-siswilah yang melakukan pencarian berdasarkan bimbingan tersebut.
“Anak-anak begitu tertarik, yang namanya pembimbing otomatis dari apa yang dilakukan anak-anak itu, 50-60 persen, adalah membantu untuk mereka mendapat ide, setelah itu bagaimana kita mengeksplor hingga menjadi suatu karya,” ujar Helita.
Sementara itu, Kezia Kasinta Tumon selaku siswa yang mengeksekusi langsung ide tersebut bersama rekannya Ayudya Aurora Putri mengatakan, inspirasi mengolah bawang dayak menjadi mi didapat setelah ia dan guru pembimbing ditantang Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran untuk membuat produk mi sehat berbahan baku tumbuhan khas Kalteng.
“Kemudian kami mendapat ide untuk mengolah bawang dayak menjadi mi, karena bawang dayak memiliki banyak kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan dan merupakan kearifan lokal,” tambah perempuan yang hobi membaca novel dan mendengarkan musik itu.
Pada awal penelitian, lanjut perempuan yang kini duduk di bangku kelas XII, ia dan temanteman mencari literatur perihal penelitian terkait bawang dayak.
Muncullah ketertarikan terhadap beberapa khasiat bawang dayak. Salah satunya sebagai penghambat tumbuhnya sel-sel kanker dan antioksidan.
“Ketika kami mengetahui bahwa belum ada inovasi pembuatan mi dari tanaman tersebut, kami pun memutuskan untuk bikin produk mi berbahan baku bawang dayak,” tutur putri dari pasangan Irwin dan Nova.
Kezia merasa bersyukur karena perjuangannya dan rekanrekan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Orang tuanya memberi dukungan lewat doa dan dana. “Teman-teman dan guru-guru juga selalu memberi semangat. Dari sekolah juga ada bantuan dana,” ucap gadis yang hobi bermain piano itu.
Anak dari pasutri yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) itu menyebut, selain baik untuk kesehatan, produk mi bawang dayak juga memiliki nilai ekonomi tinggi.
Mi bawang dayak dapat dikembangkan itu menjadi produk unggulan Kalteng, sebagaimana mi soto banjar dari Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Kami berencana mendaftarkan produk ini ke HAKI dan mengenalkan mi sehat yang punya ciri khas Kalteng,” tandasnya. (ko)







