Mengabdikan Diri, Ikhlas Beribadah dan Jalani Hidup Dalam Cinta Kasih

oleh
oleh

Menurut Pastor Patrisius, contoh nyata banyaknya masalah lingkungan itu ada di sekitar kita. Di Kalteng khususnya Kota Palangka Raya, kini mulai dihantui persoalan lingkungan. Terlihat dari fenomena bencana banjir yang sering terjadi, dengan tinggi muka air yang terus bertambah tiap tahunnya.

“Dari dulu memang ada banjir, tetapi tidak separah sekarang, dahulu banjir ada waktunya, tetapi sekarang tidak. Jadi ada yang tidak beres, ada ketidakharmonisan hubungan antara manusia dengan lingkungan,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai ekonomiekologis. Sebab, manusia hidup dari alam. Alam perlu dikelola dengan baik melalui tindakan-tindakan eksploitasi yang bijaksana dan terukur. “Jangan rakus, jangan serakah dengan alam, manusia terus berkembang, tanah tidak akan berkembang, dia statis, sedangkan manusia bertambah terus tiap tahun,” tuturnya.

Tugas menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya oleh satu pihak, dalam hal ini pemangku kebijakan, tetapi juga masyarakat sendiri. Sebaik apa pun peraturan terkait lingkungan, tetapi jika masyarakat tidak berwawasan lingkungan, maka tidak akan tercapai cita-cita keberlanjutan tersebut.

Baca Juga:  Perkuat Transformasi UMKM Kalteng, BI Gelar Get Up Bajukung 2026

Kaitannya dengan adegan teatrikal penyaliban dan kematian Yesus Kristus, Pastor Patrisius mengatakan, rangkaian demi rangkaian dalam momentum Paskah memberikan pesan bahwa manusia harus hidup sesuai kehendak tuhan. Tuhan terus bekerja, baik dahulu, sekarang, hingga masa yang akan datang. Dia terus bertugas sebagai Sang Pencipta.

“Itulah yang dimaknai oleh umat Katolik khususnya dalam masa Paskah ini. Hari ini (kemarin, red) adalah Jumat Agung, merupakan puncak pemberian diri, persembahan hidup, dan pengorbanan atas segalanya. Bagi seorang Katolik, Yesus adalah Tuhan, Tuhanlah yang memberikan hidup,” tuturnya.