Mandau Didorong Jadi Warisan Dunia UNESCO

oleh
oleh
Pj Sekda Kotim, Masri, saat melihat pameran Mandai di Museum Kayu Sampit, Jumat (10/10).

SAMPIT, kaltengonline.com– Senjata tradisional khas suku Dayak, Mandau, tengah diusulkan untuk mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dunia oleh UNESCO. Upaya ini menjadi langkah penting dalam menjaga eksistensi sekaligus memperkenalkan nilai-nilai filosofis mandau sebagai simbol kekuatan dan kearifan lokal masyarakat Dayak.

Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kotawaringin Timur (Kotim), Masri, mengatakan bahwa mandau bukan sekadar benda pusaka, melainkan identitas yang menyatukan masyarakat Dayak di berbagai daerah. Nilai-nilai di balik mandau mencerminkan semangat keberanian, kebijaksanaan, serta kedamaian yang diwariskan turun-temurun.

“Pengusulan mandau ke UNESCO merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya bangsa, khususnya masyarakat Dayak. Mandau memiliki makna mendalam, bukan hanya sebagai senjata, tetapi juga sebagai lambang kekuatan, kearifan, dan jati diri,” ujanya, saat menghadiri pameran Mandau di Museum Kayu Sampit, Jumat (10/10).

Ia menambahkan, pelestarian warisan budaya seperti mandau perlu dilakukan melalui pendekatan yang edukatif dan menginspirasi, terutama bagi generasi muda. Dengan begitu, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah arus modernisasi.

“Kita ingin masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda, mengenal dan mencintai budaya lokalnya. Mandau mengajarkan banyak hal tentang keberanian, tanggung jawab, serta kehormatan,” tuturnya.

Masri juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kotim terus berkomitmen memberikan ruang bagi pelaku seni dan budaya untuk berkarya serta berkontribusi dalam penguatan karakter bangsa melalui pelestarian tradisi lokal.(ko)