Berpelukan di Tengah Api: Kisah Sri Wahyuni, Syuhada Blitar di Tragedi Kebakaran Hong Kong

oleh
oleh

Pangkalan Bun, kaltengonline.com – Tragedi kebakaran hebat yang melanda apartemen Wang Fuk Court, Distrik Tai Po, Hong Kong, pada akhir November 2025, menyisakan kisah kemanusiaan yang menggugah hati. Di balik kobaran api dan kepanikan massal, terselip cerita pengabdian luar biasa seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Blitar, Sri Wahyuni, yang memilih bertahan bersama majikannya hingga detik terakhir.

Kisah itu pertama kali mencuat lewat unggahan media setempat yang memperlihatkan sosok perempuan berhijab oranye. Narasi yang menyertainya membuat siapa pun tercekat: Sri Wahyuni ditemukan meninggal dunia dalam posisi berpelukan dengan majikannya yang berusia 93 tahun, keduanya tertutup selimut di dalam apartemen yang dilalap api. Dunia seolah berhenti sejenak, menyadari makna kesetiaan yang jarang ditemui.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada 26 November 2025, saat api menjalar cepat di kompleks Wang Fuk Court, kawasan hunian bersubsidi di Tai Po. Diduga, kebakaran menyebar melalui perancah bambu dan jaring proyek renovasi yang tidak tahan api. Dalam hitungan menit, api berubah tak terkendali dan menelan sebagian besar blok apartemen.

Mukhtarudin, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, menuturkan bahwa tragedi tersebut menelan ratusan korban jiwa dan melukai puluhan lainnya. Dari data otoritas setempat, tercatat sembilan PMI meninggal dunia. Pemerintah Indonesia pun bergerak cepat, membuka posko bantuan dan memberikan pendampingan psikologis bagi PMI terdampak di Hong Kong.

Negara tidak hanya hadir dalam bentuk pernyataan belasungkawa. Santunan kematian sebesar Rp20 juta diserahkan kepada ahli waris para korban, disertai kehadiran berbagai unsur negara hingga tingkat desa. Proses pemulangan jenazah dilakukan secara terhormat melalui koordinasi lintas kementerian dan KJRI, memastikan setiap PMI kembali ke tanah air dengan martabat.

Baca Juga:  Abdul Rasyid AS Tebar Kepedulian, Zakat Rp12 Miliar ke 14 Daerah di Kalteng

Sri Wahyuni (42), yang bekerja sebagai perawat lansia, menjadi simbol pengabdian tanpa syarat. Saat api mengepung apartemen lantai empat, ia memilih tidak meninggalkan majikannya. Keduanya ditemukan berpelukan—sebuah kesaksian bisu bahwa di saat paling genting, kemanusiaan mengalahkan naluri menyelamatkan diri.

Beberapa jam sebelum tragedi, Sri Wahyuni sempat menelepon suaminya di Blitar. Ia bercerita sedang merapikan tempat istirahat majikan. Tak ada firasat. Telepon itu menjadi percakapan terakhir, meninggalkan duka mendalam sekaligus kebanggaan bagi keluarga dan bangsa.

Selain Sri Wahyuni, kisah heroik juga datang dari PMI lain bernama Yatemi. Dalam kondisi sakit, ia tetap mengevakuasi majikannya yang menggunakan kursi roda dari lantai lima hingga ke tempat aman. Ia selamat, namun harus menjalani perawatan sebelum akhirnya pulang ke Indonesia dengan membawa kisah keberanian yang menginspirasi.

Tragedi Tai Po menjadi pengingat keras bahwa PMI bukan sekadar “pahlawan devisa”, melainkan pejuang ekonomi keluarga yang layak mendapat perlindungan maksimal. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem pelindungan PMI, dari sebelum bekerja hingga kembali ke tanah air.

Dukungan kemanusiaan juga mengalir dari Palang Merah Indonesia. Menteri Mukhtarudin secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Jusuf Kalla atas kolaborasi PMI dengan Palang Merah Hong Kong yang memberikan santunan kepada keluarga korban selama satu tahun penuh.

Dari Tai Po, dunia belajar satu hal penting: di tengah tragedi, nilai kemanusiaan dapat bersinar paling terang. Nama Sri Wahyuni akan dikenang sebagai pahlawan sunyi—seorang PMI yang memilih setia dan berani hingga akhir hayat, meninggalkan teladan tentang makna pengabdian yang sesungguhnya.(bob)