Asap Karhutla Masuk Ruang Pelayanan di Kobar, PM2.5 Tembus 708,4

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, semakin mengkhawatirkan. Asap mulai masuk ke ruangan pelayanan, sementara pemantauan kualitas udara pada Senin, 19 Oktober 2026, menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 708,4 mikrogram per meter kubik.

Ahmad Yani merasakan langsung kondisi tersebut ketika memperpanjang surat kendaraan. Saat berada di ruangan pelayanan, ia mendapati asap karhutla mulai masuk ke dalam bangunan. Kondisi itu memperlihatkan bahwa paparan asap tidak hanya dirasakan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Di sisi lain, Direktur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, dr Fachruddin, mengatakan asap belum masuk ke ruangan rumah sakit. Ia menjelaskan ruangan rumah sakit tertutup dan menggunakan pendingin udara atau AC.

Meski begitu, Fachruddin menyoroti potensi paparan terhadap tenaga kesehatan. Mereka harus tetap menjalankan pelayanan dengan pembagian sif pagi, siang, dan malam, sehingga aktivitas kerja berlangsung di tengah kondisi udara yang memburuk.

Afif Rowina Khairi dari BMKG Kotawaringin Barat menyampaikan hasil pemantauan kualitas udara pada pukul 10.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 sebesar 708,4 µg/m³. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, kualitas udara saat itu masuk kategori berbahaya.

PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat terhirup hingga ke bagian dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Memburuknya kualitas udara juga disertai penurunan jarak pandang akibat pekatnya asap. BMKG turut melaporkan tingginya jumlah titik panas yang terpantau di wilayah Kotawaringin Barat.

Dalam data yang disampaikan, terdapat 1.932 titik panas di Kobar. Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 1.810 titik. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam pemantauan kebakaran, meski titik panas tidak selalu berarti kebakaran telah terkonfirmasi di setiap lokasi.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Warga yang harus beraktivitas di luar disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus serta mengikuti pembaruan informasi dari sumber resmi.

Asap yang mulai masuk ke ruang pelayanan menjadi pengingat bahwa dampak karhutla dapat dirasakan hingga ke dalam bangunan. Di tengah kualitas udara yang dilaporkan berbahaya, upaya penanganan kebakaran, pemantauan udara, dan perlindungan kesehatan masyarakat perlu terus diperkuat. (bob/ko)