PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Semangat Sumpah Pemuda, tidak sepatutnya hanya menggema sebagai rutinitas seremonial setiap 28 Oktober. Generasi muda masa kini dituntut untuk turun tangan dan menunjukkan kepedulian nyata, terhadap berbagai persoalan sosial hingga tantangan pembangunan di daerahnya.
Wakil Ketua II Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, menegaskan pemuda memegang peran sentral dalam menentukan arah masa depan daerah. Oleh karena itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 harus menjadi pelecut agar anak muda tidak sekadar terseret arus zaman, melainkan berani mengambil peran sebagai pemecah masalah di tengah masyarakat.
Menurut Syaufwan, kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui langkahlangkah sederhana namun berdampak. Mulai dari ke beranian menyuarakan gagasan, memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah, hingga terjun langsung dalam aksi sosial di lingkungan masing-masing.
“Pemuda jangan hanya menjadi penonton terhadap dinamika perkembangan daerah. Anak muda harus berani menyampaikan ide, beradu gagasan, dan ikut mencari solusi atas persoalan yang dihadapi oleh masyarakat,” ujarnya, Rabu (28/10).
Politikus ini juga menyoroti kompleksitas tantangan yang mengepung kaum milenial saat ini. Di luar urusan klise, seperti pendidikan dan lapangan kerja, disrupsi teknologi menuntut pemuda untuk cepat beradaptasi dan berpikir kritis.
Di tengah kemudahan akses informasi melalui media sosial, ia mengingatkan agar generasi muda tidak hanya aktif di ruang digital, tetapi miskin karya di dunia nyata.
Arus informasi di dunia maya, lanjutnya, wajib disaring secara kritis agar anak muda tidak mudah termakan hoaks atau kabar yang belum jelas kebenarannya.
“Perkembangan zaman ini harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif. Pemuda perlu terus memacu kapasitas diri, memperluas wawasan, namun tetap menjejakkan kepeduliannya pada lingkungan sekitar,” tuturnya.
Kemajuan teknologi semestinya menjadi katalisator bagi anak muda untuk memaksimalkan potensi diri sekaligus menyuarakan aspirasi. Kendati demikian, Syaufwan mengingatkan, kebebasan berekspresi di ruang digital tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab moral.
Di atas segalanya, ia berpesan agar napas persatuan warisan pemuda 1928 tidak pernah pudar di tengah perbedaan pandangan.
“Jadikan Hari Sumpah Pemuda ini sebagai pengingat bahwa estafet masa de pan bangsa berada di genggaman generasi muda. Mulailah dari lingkungan terkecil untuk memberikan kontribusi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (zia/ko)






