ISPA Kobar Melonjak di Tengah Karhutla, 567 Kasus Tercatat dalam Sepekan

oleh
oleh

Pangkalan Bun, Kaltengonline.com – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, melonjak di tengah musim kemarau dan maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar mencatat kasus ISPA mencapai 567 kasus pada minggu ke-31 tahun 2026.

Berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) periode minggu ke-18 hingga minggu ke-33, tren peningkatan ISPA mulai terlihat setelah kasus berada di titik rendah. Pada minggu ke-26, tercatat 296 kasus, kemudian naik menjadi 314 kasus pada minggu ke-27 dan 342 kasus pada minggu ke-28.

Kenaikan semakin tajam pada minggu ke-29 dengan 458 kasus dan kembali meningkat menjadi 469 kasus pada minggu ke-30. Puncaknya terjadi pada minggu ke-31 ketika jumlah kasus mencapai 567, atau melonjak sekitar 91,6 persen dibandingkan minggu ke-26.

Setelah mencapai puncak, kasus ISPA mulai menunjukkan penurunan. Dinkes mencatat 515 kasus pada minggu ke-32 dan kembali turun menjadi 462 kasus pada minggu ke-33. Meski menurun, angka tersebut masih 56,1 persen lebih tinggi dibandingkan 296 kasus pada minggu ke-26.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr Jhonferi Sidabalok, MARS, mengatakan perkembangan kasus tersebut perlu menjadi perhatian seiring kondisi musim kemarau dan kejadian karhutla yang terjadi di wilayah Kobar.

Selain ISPA, indikator penyakit saluran pernapasan lainnya juga mengalami peningkatan. Kasus influenza-like illness (ILI) tercatat 7 kasus pada minggu ke-26, kemudian meningkat hingga 18 kasus pada minggu ke-32 sebelum turun menjadi 14 kasus pada minggu ke-33.

Sementara itu, kasus pneumonia masih berfluktuasi. Setelah tercatat 11 kasus pada minggu ke-31, jumlahnya meningkat menjadi 31 kasus pada minggu ke-32 dan 32 kasus pada minggu ke-33. Kondisi tersebut perlu dipantau, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia, kata Jhonferi, Sabtu (5/9).

Tren peningkatan juga terlihat pada kasus diare. Jumlahnya naik dari 84 kasus pada minggu ke-27 menjadi 117 kasus pada minggu ke-28 dan mencapai 183 kasus pada minggu ke-30. Kasus kemudian menurun, namun masih tercatat 137 kasus pada minggu ke-33.

Dinkes Kobar menilai kondisi kemarau tidak hanya perlu diwaspadai dari sisi kualitas udara akibat asap karhutla, tetapi juga ketersediaan air bersih, higiene dan sanitasi. Dua persoalan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare.

Dengan kasus ISPA yang masih mencapai 462 kasus pada minggu ke-33, perkembangan kesehatan masyarakat tetap menjadi perhatian. Pemantauan kasus terus dilakukan melalui SKDR, sementara masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan selama kondisi kemarau dan karhutla masih berlangsung. (ko)