Warisan Pembangunan di Barito Utara Tak Lekang Oleh Waktu

oleh
oleh
H Nadalsyah Koyem
H Nadalsyah Koyem

Selamat Jalan, H Nadalsyah Koyem

MUARA TEWEH, Kaltengonline.com – Kepergian H Nadalsyah Koyem meninggalkan duka mendalam, sekaligus warisan kemajuan yang tak terhapuskan bagi Kabupaten Barito Utara. Sebagai bupati ke‐10, ia sukses mengubah wajah daerah berjuluk Iya Mulik Bengkang Turan ini.

Tokoh kelahiran Desa Lemo pada 12 Maret 1965 dari keluarga sederhana. Bupati Barito Utara periode 2013‐2018 ini merintis kesuksesan dari bawah. Berkat ketekunannya, Nadalsyah yang wafat tepat 5 Oktober 2026 ini, berhasil membangun bisnis sebelum akhirnya terjun ke dunia politik.

Mengenang Barito Utara satu dekade silam, sebuah wilayah yang pernah bergulat dengan keluhan infrastruktur, krisis listrik, dan air bersih. Namun, sejarah mencatat ketika kemudi pemerintahan dipegang H Koyem pada 23 September 2013.

Dengan hati yang terpaut pada tanah kelahirannya, Nadalsyah tak sekadar memimpin dari balik meja. Ia adalah bupati yang merogoh kocek pribadinya, mempertaruhkan tenaga, dan turun langsung merajut kembali nadi ekonomi Barito Utara. Cintanya pada Bumi Iya Mulik Bengkang Turan dibuktikan bukan lewat kata‐kata manis, melainkan rentetan mahakarya infrastruktur.

Pencapaian terbaik yang menjadi fondasi kebangkitan Barito Utara adalah menembus isolasi wilayah. Menyadari anggaran daerah terbatas, Nadalsyah bergerilya menggalang dana APBN hingga APBD menembus Rp1 triliun pada 2015 hingga mencapai Rp2,2 triliun.

Lompatan nyata terlihat dari peningkatan kondisi jalan mantap. Ia mengeksekusi untuk enam ruas jalan strategis sepanjang puluhan kilometer. Hasilnya, jalan yang dulu lumpuh total kini fungsional, memutar roda ekonomi desa.

Merajut Ikon Megah di Atas Sungai Barito Kerja keras H Nadalsyah dalam merancang wajah ibu kota Kabupaten Barito Utara tak berhenti di jalanan aspal. Ia bermimpi Muara Teweh menjadi kota modern yang indah dan dirindukan.

Hal ini diwujudkannya melalui pembangunan Jembatan Penyeberangan Muara Teweh‐Jingah yang diberi nama Jembatan Pengulu Iban, membelah pesona Sungai Barito.

Jembatan ini menjadi ikon abadi Kota Muara Teweh. Keindahan kota makin memukau dengan merampungkan Pembangunan Water Front City (WFC) yang menyuguhkan ruang rekreasi publik, berpadu dengan kemegahan Islamic Centre. H Koyem juga membangun RSUD Muara Teweh menjadi megah dengan lima lantai, rumah jabatan termegah di DAS Barito, Pembangunan Pasar Bebas Banjir, Pasar Dermaga, Pasar Pendopo dan banyak lagi karya almarhum.

Menyelamatkan Kebutuhan Dasar Saat krisis air bersih melanda, Nadalsyah kembali mengambil langkah taktis. Ia menemukan bahwa, kapasitas PDAM Muara Teweh yang hanya 80 liter/detik menjadi penyebab keruhnya air dan macetnya distribusi, sementara kebutuhan masyarakat mencapai 110 liter/detik.

Tanpa menunggu lama, ia menginstruksikan penambahan kapasitas sebanyak 50 liter/detik menjadi 130 liter/detik, sehingga air kembali jernih mengalir ke rumah‐rumah warga. Nadalsyah juga mendorong Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) berkapasitas 155 mega watt, agar listrik tidak padam lagi. Setelah fungsional, PLTMG Karendan tahun 2016, maka Barito Utara surplus Listrik.

Di bidang kesehatan, salah satu pencapaian terbaiknya adalah merombak status RSUD Muara Teweh menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Perubahan status ini berhasil memangkas jalur birokrasi.

Swasembada Jagung Di bawah kepemimpinan H Nadalsyah, Barito Utara menguasai 80 persen produksi jagung hibrida se‐Kalimantan Tengah. Prestasi membuka lahan pertanian ini membuatnya dianugerahi Satyalancana Pembangunan oleh Presiden RI Joko Widodo. Ia juga berhasil mendapatkan sertifikat paten untuk empat varietas padi unggul lokal: talun Koyem, talun setia, longkong, dan raden pahit. Kepiawaiannya menata birokrasi dibuktikan dengan raihan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK‐RI selama 8 kali berturut‐turut. Transformasi luar biasa di Bumi Iya Mulik Bengkang Turan ini berakar kuat dari fondasi pembangunan yang diletakkan selama satu dekade kepemimpinan Bupati H Nadalsyah Koyem tahun 2013‐2023.

Bagi masyarakat Barito Utara, sepuluh tahun era H. Nadalsyah adalah masa keemasan. Bersama Wakil Bupati Ompie Herby di periode pertama dan Sugianto Panala Putra di periode kedua, Nadalsyah sukses mengurai masalah pelik daerah, mengubahnya menjadi magnet investasi dan kebanggaan publik.

Karakter Nadalsyah yang tak banyak bicara namun andal mengeksekusi pekerjaan di lapangan, membuatnya dicintai rakyat. “Saya berniat supaya Barito Utara bisa maju. Itu yang tertanam,” tegas Nadalsyah, mengungkap filosofi pengabdiannya pada kesempatan bertemu wartawan.

Di penghujung masa jabatannya, ia pun berpesan, agar seluruh masyarakat Kalimantan Tengah, untuk bersatu padu dan bahu‐membahu berkontribusi untuk pembangunan dan kesejahteraan. Keikhlasannya membangun daerah terekam abadi lewat kedermawanannya merogoh kocek pribadi untuk menalangi pembangunan infrastruktur vital, seperti jembatan dan jalan, agar cepat dinikmati warga.

Contoh nyatanya adalah pembangunan Jembatan Akhmad Gunadi di Desa Sabuh. Tak hanya itu, pria yang juga dipercaya memimpin Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) ini, berhasil membuka akses jalan darat Muara Teweh menuju desa terjauh di pedalaman Kecamatan Lahei Barat, mengakhiri isolasi warga setempat. Akses krusial lainnya adalah pembukaan Jalan Lemo‐Simpang Batapah sepanjang 125 kilometer.

Kepergian H Nadalsyah adalah kehilangan besar. Namun, jejak emas pembangunan yang ia patri di sepanjang jalan, jembatan, rumah sakit, hingga pasokan listrik dan air bersih, akan terus abadi mengiringi denyut nadi masyarakat Barito Utara. Selamat jalan, Sang Bapak Pembangunan.

“Bapak meninggal ke Rahmatullah pada hari Senin, 5 Oktober 2026 pukul 19.05 WIB di RS Siloam Jakarta,” ujar Akhmad Gunadi Nadalsyah yang sedang membawa jenazah H Nadalsyah dari Jakarta ke Muara Teweh. Putra Nadalsyah ini masih masih diselimuti duka.

Bersama ibunya, Sri Hidayati dan kakanya, Lenny Dewita Putri mengiringi almarhum yang diterbangkan dari Jakarta.

Ketua DPRD Barito Utara, Hj Merry Rukaini yang merupakan kakak kandung H Nadalsyah turut membersamai jenazah almarhum. “Setiba di Banjarmasin, jenazah langsung menuju Muara Teweh melalui jalur darat. Insya Allah dimakamkan Rabu, 7 Oktober 2026 di Islamic Center Muara Teweh,” tuturnya.

Bupati Barito Utara, H Shalahuddin mengajak seluruh jajaran Pemkab Barito Utara untuk memasang bendera setengah yang. “Pemakaman dilaksanakan secara kedinasan,” ucapnya kepada wartawan. (cah/ala/ko)