SAMPIT, kaltengonline.com – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut sekitar 99 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebabkan aktivitas manusia. Pemerintah pun memperketat penegakan hukum dengan mencabut dan membekukan izin 26 perusahaan yang dinilai melakukan pelanggaran.
Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli saat meninjau penanganan karhutla di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Sabtu (17/10/2026).
“Kita tahu bahwa 99 persen kejadian ini pasti ulah manusia, baik itu masyarakat kecil yang memang berladang, kemudian tidak bisa mengontrol apa yang mereka bakar, atau juga yang besar,” kata Raja Juli.
Ia mengatakan, Kementerian Kehutanan masih memproses sejumlah perusahaan lain yang diduga melanggar aturan, termasuk perusahaan di Kalimantan Tengah.
“Kami di Kementerian Kehutanan ada 26 perusahaan yang sudah kami cabut dan bekukan izinnya. Dan sepertinya akan terus bertambah,” ujarnya.
Raja Juli juga mengingatkan masyarakat dan perusahaan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan tersebut dinilai penting di tengah kondisi kering dan terbatasnya peluang hujan alami hingga November berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam keterangannya.
Menurutnya, penanganan karhutla di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena bara api bisa bertahan di bawah permukaan tanah meskipun api tidak lagi terlihat.
“Tadi lihat-lihat bagaimana susahnya melakukan pemadaman di gambut, tidak ada apinya tapi baranya ada di bawah,” ungkapnya.
Untuk membantu mendeteksi titik panas tersembunyi, penggunaan drone termal menjadi salah satu upaya yang dapat mendukung proses pemantauan dan pemadaman.
Pemerintah juga menyiapkan penguatan personel dan peralatan. Raja Juli menyebut telah berkomunikasi dengan Panglima TNI mengenai kemungkinan penambahan pasukan. Selain itu, 35 personel Brimob dari Jawa ditambahkan untuk mendukung penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Koordinasi penyediaan peralatan akan melibatkan BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, dan Polri. Pemerintah juga mendorong pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa untuk mempercepat pencegahan dan penanganan kebakaran.
Raja Juli menyebut setiap desa dapat memiliki sekitar 15–30 anggota MPA yang didukung peralatan untuk menjaga wilayah masing-masing dari ancaman karhutla.
“Kalau memang ada nanti kita bisa adakan lagi dan kita bantu peralatan untuk menjaga desa masing-masing. Jaga desa dari karhutla,” pungkasnya. (bob)






