Dikepung Asap, Bus Oksigen Jangan Cuma Mangkal!

oleh
oleh
Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya Syaufwan Hadi mendorong Bus Oksigen Keliling menjangkau warga terdampak kabut asap karhutla.
Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya Syaufwan Hadi mendorong Bus Oksigen Keliling menjangkau warga terdampak kabut asap karhutla.

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Ancaman gangguan pernapasan juga membayangi warga yang setiap hari harus beraktivitas di luar ruangan. Di tengah kondisi tersebut, Bus Oksigen Keliling di Kota Palangka Raya diharapkan hadir lebih dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.

Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, meminta pelayanan oksigen gratis itu tidak hanya menjadi fasilitas yang tersedia, tetapi benar-benar mudah diakses warga. Terutama kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar asap karena tuntutan pekerjaan.

Pengemudi ojek daring, pedagang kaki lima, hingga pekerja lapangan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian. Mereka tidak selalu bisa menghentikan aktivitas ketika kualitas udara memburuk. Di sisi lain, kebutuhan ekonomi membuat mereka harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Layanan seperti ini cukup penting karena masyarakat membutuhkan akses pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau. Apalagi dalam kondisi kabut asap seperti sekarang, ada warga yang tetap harus bekerja di luar ruangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Syaufwan, Selasa (20/10).

Menurut dia, keberadaan Bus Oksigen Keliling merupakan salah satu upaya membantu masyarakat menghadapi dampak kabut asap. Namun, efektivitas layanan tersebut sangat bergantung pada strategi penempatan armada dan kemampuan pemerintah membaca kebutuhan warga di lapangan.

Karena itu, Syaufwan meminta Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Kesehatan mengatur lokasi operasional bus secara lebih terarah. Kawasan dengan mobilitas masyarakat tinggi dan wilayah yang terdampak kabut asap perlu menjadi pertimbangan utama.

Jangan sampai layanan kesehatan yang seharusnya memudahkan masyarakat justru sulit dijangkau oleh warga yang membutuhkan. Pemerataan pelayanan dinilai penting agar manfaat program tidak hanya dirasakan masyarakat yang kebetulan berada di sekitar lokasi bus beroperasi.

“Jangan sampai masyarakat yang membutuhkan justru kesulitan menjangkau layanan ini. Karena itu, penempatan bus perlu memperhatikan kondisi di lapangan, terutama kawasan yang aktivitas masyarakatnya cukup tinggi dan wilayah yang terdampak kabut asap,” tegasnya.

Tak hanya soal lokasi, Syaufwan juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi mengenai jadwal dan titik pelayanan. Informasi yang jelas akan membantu masyarakat mengetahui keberadaan bus tanpa harus membuang waktu mencari lokasi operasionalnya.

Pemkot, lanjut dia, dapat memaksimalkan kanal komunikasi resmi dan media sosial untuk mengumumkan lokasi serta jadwal pelayanan secara berkala. Dengan begitu, warga dari berbagai kawasan memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

Di tengah ancaman kabut asap, pelayanan kesehatan yang cepat dan mudah dijangkau menjadi kebutuhan penting. Syaufwan berharap Bus Oksigen Keliling tidak sekadar hadir sebagai fasilitas pendukung, tetapi mampu menjadi layanan yang responsif terhadap kondisi masyarakat.

“Dengan begitu, keberadaan Bus Oksigen Keliling tidak hanya diketahui masyarakat di sekitar lokasi pelayanan, tetapi juga warga dari kawasan lain yang membutuhkan,” pungkasnya. (zia/ko)