PANGKALAN BUN, Kaltengonline.com – Kabut asap masih menyelimuti sejumlah bagian Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Di beberapa titik, asap tipis masih mengepul dari lahan gambut, sementara petugas dan relawan terus melakukan pemadaman serta pembasahan untuk mencegah api kembali menyala.
Kondisi itu terlihat saat Bupati Kobar Nurhidayah meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi tersebut, Sabtu (24/10/2026). Bersama Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), ia menyusuri jalur menuju lokasi penanganan untuk melihat situasi di lapangan.
Perjalanan dimulai dengan menaiki perahu menyusuri Sungai Sekonyer menuju Dermaga Tanjung Harapan. Kabut asap terlihat di sepanjang perjalanan, mengiringi rombongan memasuki kawasan yang dikenal sebagai habitat orangutan tersebut. Perahu yang biasanya digunakan untuk wisata kini menjadi sarana mobilitas dalam mendukung aktivitas penanganan karhutla.
Dari dermaga, rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 1,6 kilometer. Jalur yang dilalui berupa semak belukar dan tanah gambut, dengan bentangan selang serta nozel pemadam di sejumlah bagian. Medan yang sulit membuat upaya menjangkau titik kebakaran membutuhkan tenaga, peralatan, dan pasokan air yang memadai.
Di sepanjang jalur, tim mengandalkan sejumlah penampungan air untuk menunjang pemadaman. Berdasarkan informasi relawan, terdapat lima penampungan yang masing-masing berkapasitas 10 ribu liter dan disuplai dari Sungai Sekonyer. Penampungan itu ditempatkan dengan jarak sekitar 400 meter untuk membantu distribusi air ke lokasi yang sulit dijangkau.
Tim relawan juga menyebut terdapat sekitar 20 titik penampungan air di sejumlah jalur zona inti TNTP. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kerja petugas, terutama ketika sumber air berada jauh dari titik kebakaran dan akses kendaraan pemadam terbatas.
Saat menyusuri lokasi, rombongan tidak melihat kobaran api besar di jalur yang ditinjau. Namun, asap tipis masih muncul dari beberapa bagian lahan gambut. Kondisi ini menjadi perhatian karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali memicu kebakaran meski api di permukaan telah padam.
Penanganan karena itu tidak berhenti pada pemadaman api yang terlihat. Petugas perlu membasahi lahan, memantau titik-titik rawan, dan memastikan tidak ada bara yang kembali menyala. Proses tersebut membutuhkan ketelitian serta pasokan air yang berkelanjutan, terutama di kawasan gambut dengan medan yang menyulitkan pergerakan.
“Kita ingin melihat sejauh mana skema penanganan, sekaligus memberikan semangat kepada para relawan yang berjuang menjaga TNTP,” kata Nurhidayah. Ia mengatakan peninjauan dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini, melihat kebutuhan personel, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi tim di lapangan.
Menurut Nurhidayah, medan yang berat menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla di kawasan tersebut. “Medan kita sangat berat, namun alhamdulillah semua tim terus bekerja tanpa mengenal lelah,” ujarnya. Koordinasi antarpersonel dan ketersediaan sarana pendukung diperlukan agar pemadaman serta pemantauan dapat terus berjalan.
TNTP merupakan kawasan konservasi penting yang menjadi habitat orangutan dan berbagai satwa liar lainnya. Kebakaran di kawasan ini berisiko mengganggu ekosistem dan ruang hidup satwa. Di tengah asap yang masih menyelimuti sejumlah titik, penanganan karhutla menjadi pekerjaan yang harus terus dilakukan untuk mencegah api kembali membesar dan meluas ke bagian hutan lainnya. (bob/ko)






