Rumah Oksigen KiM Layani 200 Orang, Kasus ISPA di Kobar Naik 32,5 Persen

oleh
oleh

PANGKALAN BUN, Kaltengonline.com – Rumah Oksigen KiM di kawasan Varcube, Bundaran Pancasila, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), telah melayani 200 orang sejak 15 hingga 26 Oktober 2026. Layanan tersebut hadir di tengah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Wakil Direktur PT KiM Property, Muhammad Wardiman, mengatakan jumlah warga yang mendapatkan layanan oksigen itu tercatat selama 11 hari operasional. Rata-rata pengunjung mencapai 18 hingga 19 orang per hari.

Menurut Wardiman, lokasi Rumah Oksigen KiM dipilih di kawasan yang mudah dijangkau masyarakat. Fasilitas tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.

Masyarakat yang datang berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia. Penyediaan layanan ini, kata Wardiman, merupakan tindak lanjut arahan pemilik KiM Property, Rangga Lesmana.

Wardiman memperkirakan jumlah warga yang membutuhkan layanan oksigen berpotensi bertambah apabila kondisi asap terus memburuk. Karena itu, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan oksigen.

Sementara itu, kasus ISPA di Kobar tercatat meningkat pada minggu epidemiologi ke-40 tahun 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, menyebutkan terdapat 506 kasus, naik 32,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang mencatat 382 kasus.

Jhonferi menjelaskan, data tersebut merupakan pembaruan minggu epidemiologi ke-40. Hingga Senin (26/10/2026), data terbaru untuk hari itu belum tersedia.

Sepanjang 2026, kasus ISPA di Kobar sempat mencapai 566 kasus pada minggu epidemiologi ke-31. Setelah mengalami fluktuasi, jumlahnya kembali meningkat pada minggu ke-40, bertepatan dengan berlangsungnya musim karhutla.

Selain ISPA, kasus pneumonia naik dari 25 menjadi 30 kasus. Kasus influenza-like illness (ILI) juga meningkat dari lima menjadi 16 kasus, sedangkan diare akut turun dari 107 menjadi 102 kasus.

Meski peningkatan kasus ISPA terjadi saat persoalan kabut asap berlangsung, data tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh kenaikan disebabkan langsung oleh paparan asap karhutla.

Masyarakat, terutama kelompok rentan, diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk.

Layanan Rumah Oksigen KiM menjadi salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan warga yang membutuhkan oksigen. Namun, layanan tersebut tidak menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis, terutama bagi pasien dengan gangguan pernapasan berat.

Di tengah meningkatnya kasus ISPA, penanganan kesehatan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan upaya pengendalian karhutla dan pengurangan paparan asap. Perbaikan kualitas udara tetap menjadi faktor penting untuk melindungi kesehatan warga di Kotawaringin Barat. (bob/ko)