PALANGKA RAYA-Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkomitmen untuk mengoptimalkan upaya antisipasi dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di setiap daerah melalui kesiapan sarana prasarana (sarpras) dan personil.
Hal ini merupakan bentuk kewaspadaan dini dalam menyikapi prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut bahwa kemarau tahun ini akan lebih panas.
Salah satu daerah yang menjadi perhatian pemerintah pusat dalam upaya melakukan pencegahan dan penanganan karhutla adalah Kalimantan Tengah (Kalteng). Kalteng merupakan daerah yang memiliki luasan lahan gambut dan hutan yang besar. Dari kondisi cuaca yang diperkirakan akan lebih panas dan luasan lahan gambut serta hutan yang besar, maka potensi karhutla pun besar. Langkah antisipasi dan penanganan pun harus dimaksimalkan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Letjen TNI Suharyanto beserta jajaran telah melaksanakan tinjauan ke Kalteng dalam rangka mengecek kesiapan daerah dalam upaya mencegah dan menanggulangi karhutla.
Suharyanto meninjau langsung kesiapan personel dan sarpras pencegahan dan penanggulangan karhutla di Kalteng pada apel gelar pasukan yang digelar di halaman Kantor Gubernur Kalteng, Jumat pagi (16/6).
Dalam tinjauan itu, Suharyanto beserta jajaran didampingi oleh Wakil Gubernur (Wagub) Kalteng H Edy Pratowo beserta jajaran melaksanakan apel kesiapan sarpras dan personel dalam menghadapi potensi karhutla ke depan. Usai apel dilaksanakan, dalam rangkaian tinjauan itu juga dilaksanakan rapat koordinasi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, jajaran TNI dan Polri, dan instansi terkait lainnya untuk merumuskan langkah ke depan pada upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla, khususnya di Bumi Tambun Bungai.
Menurut jenderal bintang tiga itu, hal pertama yang harus menjadi perhatian adalah pada tahun 2023 ini, lanjutnya, kondisi cuaca berbeda dengan kondisi cuaca dari tiga tahun sebelumnya. BMKG memprediksi kemarau di tahun 2023 akan lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk di Kalteng.
“Meskipun saat ini masih ada hujan. Namun di minggu-minggu depan, berdasarkan prediksi BMKG, cuaca akan lebih banyak kemarau apabila dibandingkan dengan tahun 2022, 2021, dan 2020 lalu,” kata Suharyanto kepada wartawan usai rapat koordinasi.
Ia pun mengingatkan kepada pemerintah daerah akan kejadian karhutla beberapa tahun ke belakang.
Menurut pria yang lama bertugas di kesatuan kostrad ini, Kalteng merupakan salah satu daerah yang masuk dalam enam provinsi prioritas penanganan karhutla di Indonesia.
“Tentu kita masih ingat bahwa kebakaran hutan dan lahan provinsi ini masuk dalam enam provinsi prioritas yang jadi pusat perhatian kita semua,” ucapnya.
Karhutla memang tidak terjadi secara masif di Kalteng jika berkaca dari fenomena tiga tahun ke belakang, yakni 2022, 2021, dan 2020. Namun demikian, lanjut Suharyanto, bencana karhutla terjadi selama siklus empat tahunan.
“Siklus empat tahunan karhutla jatuhnya di tahun 2023. Kami ingat dulu kebakaran hutan dan lahan yang besar terjadi di tahun 2015. Kemudian 2016, 2017, 2018 relatif kecil, dan 2019 kembali besar,” jelasnya.
Kemudian, tambah Suharyanto, karhutla kembali terjadi di tahun 2019 dengan kondisi kerusakan yang cukup besar. Kemudian 2020, 2021, 2022, lanjutnya, menjadi kecil kembali karena cuaca dan musim kemaraunya yang pendek.
“Pada siklusitu, kami rasa jatuh di tahun 2023, tahun ini yang diprediksi kuat akan terjadi bencana karhutla dengan potensi yang lebih parah dari tahuntahun sebelumnya, sesuai pola tiga tahunan bencana karhutla,” tambahnya.
Ia pun mengajak kepada pejabat di Provinsi Kalteng ini untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan agar kejadian yang pernah terjadi di tahun 2015 dan 2019, sebagaimana berdasarkan perkiraan siklus tiga tahunan bencana karhutla parah, tidak terjadi lagi di tahun ini.
Suharyanto mengungkapkan, berdasarkan pantauan pihaknya, BNPB mencatat terdapat 1.037 titik api yang sudah muncul di kabupaten/kota yang beberapa bulan lalu mengalami banjir.
“Provinsi Kalteng ini yang beberapa bulan lalu berhadapan dengan bencana alam banjir antara lain Kotawaringin, Katingan, dan Pulang Pisau, sekarang malah titik api sudah banyak di daerah-daerah tersebut,” tambahnya.
Menurut Suharyanto, keadaan demikian menandakan bahwa perubahan cuaca terjadi sangat cepat, beberapa bulan yang lalu Kalteng berhadapan dengan banjir, sementara di bulan-bulan yang hampir berdekatan justru berhadapan dengan bencana karhutla.
“Mari kita bersama-sama bersatu padu menyatukan pikiran, tindakan, dan kegiatan antara pusat dan daerah, untuk melakukan pencegahan dan penanganan karhutla. Sebelum api membesar, segera dipadamkan. Karena kalau sudah besar akan sulit ditangani,” ajaknya.
Untuk membantu penanganan karhutla di Bumi Tambun Bungai, Suharyanto menyebut pihaknya sudah mengerahkan sejumlah sarpras untuk digunakan oleh petugas setempat dalam operasi penanganan karhutla, baik melalui jalur udara maupun jalur darat.
Dalam membantu operasi penanganan karhutla di jalur udara, pihaknya sudah memberikan bantuan satu buah helikopter patroli dan satu buah helikopter water bombing (WB). Statusnya saat ini sudah diserahkan kepada Pemprov Kalteng dan mulai beroperasi.
“Statusnya saat ini sudah deploy,” ucapnya.
Sementara untuk membantu operasi pemadaman karhutla jalur darat, pihaknya akan menyiapkan 66 regu darat. Pihaknya sudah menerima berbagai usulan sarpras dari pemerintah daerah, seperti 27 unit suntik gambut, 27 unit flexible tank, 81 unit pompa jinjing, 135 unit nozzle, dan 1350 selang ukuran 1,5 inchi.
“Sebagai bentuk dukungan terhadap kinerja satgas operasi darat karhutla, BNPB akan memberikan dukungan logistik peralatan kepada BPBPK Kalteng dengan total Rp13.945.986.00,” sebutnya.
Pihaknya juga akan mulai mengeksekusi rencana teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Kalteng pada akhir Juni mendatang. “Kalteng akan melakukan TMC mulai tanggal 25 Juni 2023 bersama dengan BRGM dan BRIN, dimaksudkan untuk merekayasa cuaca agar menjadi lebih basah,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Wagub Kalteng H Edy Pratowo mengatakan, Pemprov Kalteng sejak awal telah mengingatkan pemerintah kabupaten/ kota untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla di tahun 2023.
Kemudian, lanjut Edy, pada 15 Maret 2023, telah diadakan rakor karhutla bersama pemerintah daerah dan forkopimda provinsi dan kabupaten/ kota, dengan penekanan yaitu peningkatan kesiapsiagaan personil, sarpras, dan penyediaan anggaran memadai untuk penanganan karhutla.
“Jika dibandingkan data karhutla 3 tahun terakhir yang merupakan musim kemarau basah, maka penanganan karhutla yang kita lakukan bersama selama tahun 2023 sudah berjalan pada jalur yang tepat,” ujarnya.
Mantan Bupati Pulang Pisau itu juga mengatakan, untuk mengoptimalkan langkah pengendalian karhutla tahun 2023, Pemprov Kalteng telah mengalokasikan DBH-DR (Dana Bagi Hasil-Dana Reboisasi) sebesar Rp83 miliar yang dapat digunakan untuk pencegahan, pemadaman, penanganan pasca karhutla, patroli, operasi pencegahan dan pemadaman oleh satgas (melibatkan masyarakat peduli api) dan belanja sarana prasarana yang akan dihibahkan ke pemerintah kabupaten dan kelompok masyarakat peduli api.
“Selain langkah tersebut, Pemprov Kalteng juga telah mencadangkan anggaran BTT sebesar Rp107 miliar, yang salah satunya untuk penanganan darurat bencana karhutla jika terjadi,” tandasnya. (ko)







