Sebut Food Estate Gumas Gagal dan Harus Dihentikan

oleh
oleh
Sekelompok aktivis pegiat lingkungan lakukan parodi makan siang di lokasi food estate singkong di Gunung Mas, Sabtu (2/12).

Arie Rompas menjelaskan bahwa di lahan kurang lebih 600 hektare (Ha) ini seharusnya dijalankan dengan kredibel. Dimana harus membangun Amdal, lalu memperhatikan kondisi tanah, memperhati­kan hal masyarakat adat, serta mengkaji bagaimana dampak­nya terhadap lingkungan.

“Namun sudah kita lihat sam­pai sekarang belum ada yang tertanam. Dan lagi kita lihat seka­rang di gerbang masuk kawasan food estate, ada upaya untuk menggantikan komoditi sing­kong ke jagung,” tegasnya Arie.

Dalam penanam jangung itu, menurut tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Dimana prosesnya tanah-tanah dari luar dibawa ke kawasan terse­but. Hal ini disebut Arie sebagai bentuk kamuflase, agar food estate di lahan tersebut bisa dianggap berhasil.

“Bagi pemerintah Indonesia kami harap ini bisa dihentikan dan dievaluasi proyek food es­tate. Selain ia juga meminta un­tuk mengevaluasi terkait izin-iz­in. Bisa kita lihat banyak proyek food estate yang gagal dan telah mengorbankan dengan merusak hutan,” tegas Arie Rompas.

Baca Juga:  Dorong Kemandirian Energi, PLN Dukung Konversi Kendaraan Listrik di Kalimantan Selatan

Selain di Gunung Mas, proyek food estate pemerintah juga merambah wilayah gambut di bekas lahan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di Kabu­paten Kapuas dan Pulang Pisau yang sebelumnya sudah gagal.

Bayu Herinata, Direktur Ekse­kutif Walhi Kalteng mendesak pemerintah harus melakukan evaluasi pelaksanaan proyek food estate secara menyeluruh karena ada potensi kerugian negara dari penggunaan APBN dalam menjalankan proyek ini.