SAMPIT, Kaltengonline.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring meningkatnya risiko kebakaran pada musim kemarau. Upaya pencegahan menjadi perhatian utama agar dampak karhutla tidak meluas ke berbagai sektor, termasuk transportasi udara.
Persoalan karhutla menjadi salah satu agenda utama dalam coffee morning yang dipimpin Bupati Kotim Halikinnor bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan jajaran pemerintah daerah di Aula Rumah Jabatan Bupati, Senin (3/8).
Halikinnor menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Menurutnya, apabila tidak segera dikendalikan, kabut asap dapat memicu berbagai dampak, mulai dari gangguan kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga layanan transportasi udara.
Ia secara khusus mengingatkan agar kabut asap tidak mengganggu operasional penerbangan di Bandara H Asan Sampit yang kini kembali melayani penerbangan harian Super Air Jet.
“Jangan sampai pesawat yang sudah berhasil kita datangkan justru terganggu akibat kabut asap karena karhutla,” tegas Halikinnor.
Untuk mencegah kebakaran meluas, Halikinnor meminta seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan bersama masyarakat meningkatkan pengawasan di wilayah yang rawan terjadi kebakaran.
Camat, lurah, ketua RT, ketua RW, Satpol PP, hingga aparat keamanan diminta aktif melakukan patroli dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Selain itu, setiap kejadian kebakaran harus ditelusuri penyebabnya, termasuk mengidentifikasi kemungkinan adanya unsur kesengajaan.
“Jangan hanya memadamkan apinya. Kita juga harus mengetahui penyebabnya sehingga kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Kotim juga menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi kendala pemadaman di lahan gambut, terutama saat ketersediaan air semakin terbatas pada musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diminta memetakan kawasan rawan karhutla sekaligus menyiapkan alternatif penyediaan sumber air, termasuk pembangunan sumur bor dan embung sementara di lokasi yang membutuhkan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan diminta memperkuat pemantauan kualitas udara. Apabila kondisi asap semakin memburuk, pemerintah akan mengevaluasi aktivitas pembelajaran serta menyiapkan langkah perlindungan bagi masyarakat, termasuk pendistribusian masker.
Halikinnor menegaskan bahwa dampak karhutla dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari kesehatan, transportasi, hingga iklim investasi daerah. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengedepankan langkah pencegahan.
“Dampaknya sangat luas, mulai dari kesehatan, transportasi hingga investasi. Karena itu pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (ko)







