Menurut Yohan, keterbatasan akses menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan Karhutla Tanjung Puting. Kondisi lahan yang bergambut dan rawa membuat pergerakan personel menuju titik kebakaran semakin sulit.
Karena itu, Balai TNTP membutuhkan dukungan pemadaman dari udara. Salah satunya melalui helikopter water bombing BNPB, terutama karena lokasi kebakaran jauh dan tidak tersedia sumber air yang memadai.
“Karena lokasi yang terbakar berada di dalam sehingga kami kesulitan untuk menjangkau. Untuk itu kami sangat mengharapkan bantuan helikopter water bombing BNPB untuk pemadaman dari atas, karena lokasinya sangat jauh dan sumber air tidak ada,” ujarnya.
Untuk memperkuat penanganan, Balai TNTP mengerahkan 114 personel. Mereka yang sebelumnya menjalankan berbagai tugas di kawasan taman nasional kini diprioritaskan membantu penanggulangan karhutla.
Kebakaran tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan ekosistem dan satwa liar. TNTP merupakan salah satu kawasan konservasi penting bagi orangutan, termasuk untuk kegiatan rehabilitasi dan penelitian.
Meski kebakaran melanda bagian kawasan taman nasional, Balai TNTP memastikan dua lokasi yang menjadi pusat kunjungan wisata dan kegiatan orangutan, yakni Pondok Tanggui dan Camp Leakey, masih dalam kondisi aman.
“Untuk lokasi kunjungan wisatawan seperti di Pondok Tanggui yang merupakan pusat rehabilitasi orangutan dan Camp Leakey kawasan pusat rehabilitasi dan riset orangutan legendaris, kedua tempat tersebut masih aman,” kata Yohan.






