Serapan Anggaran Barito Utara Baru 7 Persen, Bupati Ancam Mutasi Pejabat

oleh
oleh
Bupati Batara, Shalahuddin ditemani wabup Felix dan sekda Muhlis saat diwawancara media, beberapa waktu lalu.
Bupati Batara, Shalahuddin ditemani wabup Felix dan sekda Muhlis saat diwawancara media, beberapa waktu lalu.

MUARA TEWEH, Kaltengonline.com – Realisasi penyerapan anggaran di lingkungan Pemerintah Kabupaten Barito Utara hingga saat ini hanya mencapai angka 6,38 persen. Angka tersebut terpaut jauh dari target yang ditetapkan pada periode awal tahun, memicu kemarahan Bupati Batara, Shalahuddin yang mengancam akan melakukan evaluasi jabatan secara besar-besaran terhadap aparatur yang dianggap lalai.

Bupati menyampaikan peringatan kerasnya dalam sebuah apel pagi yang digelar di Arena Tiara Batara Muara Teweh, Rabu (25/3). Ia menyoroti selisih defisit yang sangat besar antara realisasi yang baru dibulatkan menjadi 7 persen dengan target yang harus dicapai sebesar 18,5 persen. Kondisi ini dinilai krusial karena memasuki periode yang menentukan bagi kinerja keuangan daerah.

“Hari ini penyerapan anggaran kita masih di 6,38 persen. Targetnya 18,5 persen, berarti kita minus hampir 11 persen lebih. Di akhir bulan nanti, targetnya harus 20 persen,” tegas Bupati.

Dalam arahannya yang berapi-api, kepala daerah tersebut mengeluarkan ancaman tegas kepada seluruh pejabat, mulai dari eselon II, III, hingga IV. Ia menyatakan tidak akan mentolerir ketidakmampuan dalam mencapai target percepatan anggaran, bahkan siap melakukan pergantian kepemimpinan dalam waktu singkat jika ditemukan kinerja yang tidak memuaskan.

Baca Juga:  Pemkab Barito Utara Wajibkan ASN Salat Berjamaah Saat Jam Kerja

“Saya tidak mengenal posisi, teman dekat, atau keluarga. Kalau tidak bisa mengikuti, sampaikan kepada eselon 3, 4, 2. Jangan pernah bangga dengan jabatan. Hari ini Bapak Ibu mundur, atau saya ganti besok pagi. Itu bisa. Ada yang lebih hebat, banyak yang menunggu,” ancam bupati.

Lebih lanjut, Bupati memaparkan mekanisme evaluasi berjenjang yang akan diberlakukan sebagai bagian dari cara kerjanya. Evaluasi tidak hanya berhenti pada pergantian jabatan, tetapi juga akan menjangkau aspek disiplin individu. Ia mengancam akan menempatkan pegawai yang tidak disiplin di rumah tanpa tunjangan jabatan atau istilah yang digunakannya sebagai “cuci besar”.

“Saya akan mengevaluasi dan itu memang cara kerja saya. Biasakan belajar, yang menilai kita bukan kita sendiri. Tiga kali teguran, masih seperti ini, beri cuci besar tiga bulan, biar di rumah saja daripada mengganggu disiplin yang lain,” pungkasnya mengakhiri peringatan keras tersebut. (ren/ans/ko)