Hari Lahir Pancasila, Faridawaty Ajak Publik Bumikan Falsafah Huma Betang di Ruang Digital

oleh
oleh
Anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Faridawaty Darland Atjeh
Anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Faridawaty Darland Atjeh

PALANGKA RAYA, Kaltengonline.com – Hari Lahir Pancasila tidak sekadar menjadi penanda sejarah lahirnya dasar negara, tetapi juga momentum krusial untuk memperkuat komitmen kebangsaan. Anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Faridawaty Darland Atjeh, menilai nilai-nilai Pancasila wajib diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari agar keharmonisan sosial tetap terjaga.

Menurut Faridawaty, peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni, hendaknya dimaknai lebih dari sebatas seremonial tahunan. Momentum ini, menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus membumikan Pancasila, di tengah kehidupan masyarakat yang dinamis.

Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng I meliputi Palangka Raya, Katingan, dan Gunung Mas ini menuturkan, derasnya kemajuan teknologi dan keterbukaan ruang digital membawa tantangan tersendiri bagi persatuan bangsa. Karena itu, semangat toleransi, gotong royong, dan keadilan sosial harus terus diperkuat.

“Pancasila harus menjadi kompas dalam menyikapi perubahan zaman. Nilai-nilai di dalamnya sangat penting untuk merawat kebersamaan dan memastikan keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan pemecah belah,” ujar Faridawaty, Senin (1/6).

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Kalteng ini menambahkan, Bumi Tambun Bungai selama ini dikenal kokoh merawat harmoni di tengah kemajemukan suku, agama, dan budaya. Kondisi kondusif tersebut, tidak lepas dari kuatnya nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.

Ia menilai, falsafah Huma Betang yang hidup dalam masyarakat Dayak memiliki keselarasan mutlak dengan butir-butir Pancasila. Filosofi tersebut, mengajarkan pentingnya hidup berdampingan dalam perbedaan, serta menjunjung tinggi rasa saling menghormati.

“Semangat Huma Betang membuktikan, bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru keberagaman ini harus menjadi modal sosial dalam membangun daerah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Faridawaty mengajak generasi muda untuk mengambil peran aktif sebagai benteng nilai kebangsaan di media sosial. Kaum muda memiliki posisi strategis untuk menyebarkan pesan positif, membangun ruang diskusi yang sehat, serta menangkal narasi polarisasi.

Baginya, tantangan masa depan tidak hanya berkutat pada pertumbuhan ekonomi fisik, melainkan bagaimana menjaga kohesi sosial di tengah keberagaman yang dimiliki Indonesia.

“Selama Pancasila tetap menjadi landasan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, saya optimistis kita akan mampu melewati berbagai tantangan zaman sekaligus menjaga persatuan,” pungkasnya. (ovi/ko)